Situs LSM  LP3B Buleleng
| home | buku tamu | kirim artikel | download | forum | recommend | kontak |

Rubrik

Serba Serbi (umum)
Olahraga
Sain dan Teknologi
Seni & Budaya
Pendidikan
Lingkungan
Sosial, Politik & Ekonomi
Parlementaria
Energi
Pertanian Organik
ARSIP LAWAS LP3B
Global Warming & Climate Change

Top 10 Download

Buku Tamu dgn Turing number (958)
Pesan Singkat dgn Turing number (834)
PIXresizer (764)
Modul Komentar Terakhir (756)

Powered by








 

Kondisi Biofisik Sumber Mata Air Di Kabupaten Buleleng

Kamis, 29 Mei - oleh : Putu Suwardika | 3 komentar |   1062 hits

Abstrak: Penelitian untuk menginventarisasi keberadaan sumber mata air (SMA) di Kabupaten Buleleng dan mengidentifikasi kondisi biofisik SMA maupun areal radius 200 meter sekitar SMA telah dilakukan pada bulan Oktober - Nopember 2007. Penelitian dilakukan melalui studi data sekunder maupun data primer. Studi data sekunder dilakukan melalui kajian literatur, Perundang-undangan, Laporan-laporan, dan data grafis berupa peta-peta dasar dan teknis serta dokumen grafis kegiatan identifikasi dan inventarisasi SMA ditingkat kabupaten/kota, provinsi, dan BPDAS. Sedangkan studi data primer dilakukan dengan cara survei/pengukuran dan wawancara dengan penduduk/masyarakat secara langsung di lapangan. Dari hasil penelitian teridentifikasi dan terinventarisasi 231 SMA tersebar di 9 kecamatan di Kabupaten Buleleng. Dari 231 SMA tersebut, 89,61% diantaranya dalam kondisi mengalirkan air sepanjang tahun, 23 SMA tidak mengalirkan air lagi/mati, dan 1 SMA hanya mengalirkan air pada musim hujan. Sebagian besar (83,98%) SMA berkinerja jelek, hanya 16,02% SMA yang berkinerja sedang sampai baik. Jenis tanah pada areal radius 200 meter sekitar SMA dominan berupa regosol (regosol, regosol coklat kelabu, regosol coklat, regosol kelabu) mencakup 52% SMA teridentifikasi, kemudian latosol (latosol coklat, litosol, dan latosol coklat kekuningan) mencakup 42% SMA teridentifikasi, dan selebihnya berupa tanah aluvial dan mediteran. Kondisi lereng dominan datar dan landai (62,34%), selebihnya tersebar pada kelas lereng agak curam (19,48%) dan curam/sangat curam (18,18%). Sebagian besar areal radius 200 meter sekitar SMA (91,34%) berada dalam siatuasi hujan infiltrasi (RD) tergolong rendah. Kondisi penutupan lahan dominan berupa tanaman tahunan jarang (39,39% dari total SMA teridentifikasi), kemudian tanaman semusim/tanah kosong (sawah, peladangan) (32,47%), tanaman tahunan lebat (24,24%), dan sisanya dalam jumlah kecil berupa areal berhutan. Sebanyak 181 (78,35%) SMA berada dalam areal radius 200 meter dengan kondisi baik/normal alami, sisanya 50 (21,65%) SMA kondisinya mulai kritis/agak kritis.

Kata-kata kunci : kondisi Sumber Mata Air, kinerja Sumber Mata Air, kekritisan resapan

Pendahuluan
Penduduk Provinsi Bali (berlaku juga untuk Buleleng) menggunakan air untuk kepentingan domestik minimal 60 liter/orang/hari (JICA, 2005). Jika penduduk Kabupaten Buleleng berjumlah 643.043 jiwa pada tahun 2006 (Buleleng dalam Angka, 2006), maka mereka menggunakan air untuk keperluan domestik minimal 38.582,58 m3/hari. Dengan menggunakan rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 1,7%/tahun, diprediksi penduduk Buleleng akan berjumlah 752.360 jiwa pada 10 tahun yang akan datang. Berarti pada saat itu penduduk Buleleng membutuhkan air untuk kepentingan domestik minimal 45.141,62 m3/hari. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perkembangan usaha di sektor pertanian, industri, perdagangan, dan pariwisata, maka kebutuhan akan air untuk memenuhi berbagai kebutuhan akan jauh lebih tinggi dari perhitungan di atas.
Air yang dimaksud dalam hal ini adalah semua air yang terdapat di dalam dan/atau berasal dari sumber-sumber air baik yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah, tidak termasuk dalam pengertian ini air yang terdapat di laut (Naskah Kerjasama Dirjen RRL dengan Dirjen Pengairan, 1992). Salah satu air yang memiliki arti penting bagi masyarakat Buleleng adalah air yang keluar dari sumber mata air (SMA). Secara teknis, SMA merupakan suatu tempat yang dapat mengeluarkan air dari tubuh bumi secara terus menerus (Permenhut P_33/Menhut - V/2005).
Penggunaan air dari SMA terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri dan irigasi. Selain itu juga dimanfaatkan untuk kegiatan upacara adat dan rekreasi. Suplai air untuk rumah tangga dan industri dikelola oleh PDAM, dan sebagian kecil dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUM Des).
Dari sisi persediaan air, jika siklus hidrologi berlangsung normal dan kondisi hutan serta daerah resapan air (recharge area) lainnya tetap, maka air yang disediakan oleh alam secara kuantitatif akan cenderung tetap. Jika tidak dikelola dengan baik, suatu ketika akan terjadi situasi dimana penduduk akan kesulitan air karena jumlah pasokan tidak lagi seimbang dengan kebutuhan. Kondisi tentu akan semakin parah jika siklus hidrologi berlangsung tidak normal, diperburuk dengan menurunnya kemampuan daerah resapan air di bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pada satu dekade terakhir, ada kecenderungan terjadinya penurunan kondisi DAS. Fenomena ini dapat diamati dari makin meningkatnya kejadian banjir pada musim penghujan, kekeringan pada musim kemarau, menurunnya volume air danau, dan menurunnya persedian air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satu faktor yang mempunyai pengaruh langsung terhadap tata air dalam suatu DAS adalah hutan dan lahan. Kerusakan hutan dan lahan di bagian hulu DAS mempunyai dampak negatif terhadap kondisi setempat (on-site) dan kondisi tempat lainnya di hilir (off-site) yang berhubungan secara hidrologis (BPDAS Unda Anyar dan PT. Citra Wahana Konsultan, 2007).
Pengaruh kurangnya liputan hutan (forest cover) terhadap tingginya intensitas kejadian banjir, tanah longsor dan krisis air merupakan gambaran besarnya peran dari hutan terhadap regulasi air. Luas liputan hutan di Kabupaten Buleleng saat ini 51.436,21 Ha atau 32,86% dari luas wilayah Kabupaten Buleleng (Dishutbun Kabupaten Buleleng, 2006; Buleleng Dalam Angka, 2007). Dari sisi luas sudah melampaui persyaratan, yaitu minimal 30 % dari luas suatu wilayah (UU No. 41/1999). Namun dari sisi kondisi, sebagian hutan di Buleleng berada dalam keadaan rusak sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya krisis air yang mengkhawatirkan. Menurut data pada buku Statistik Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Buleleng (2006), 17,73% hutan di Kabupaten Buleleng dalam kondisi kritis sampai sangat kritis, sebanyak 8,86% agak kritis, dan 72,30% potensial kritis.
Kondisi tersebut di atas menunjukkan bahwa secara empiris terjadi penurunan kapasitas tampung dari air tanah (groundwater storage). Parameter paling representatif yang dapat digunakan untuk menilai kondisi kapasitas tampung air tanah tersebut adalah aliran dasar (baseflow) yang merefleksikan besar kecilnya suplai dari SMA. Pada dasarnya mata air merupakan outlet dari suatu groundwater basin sehingga prinsip-prinsip pengelolaan DAS berlaku dalam menelaah kondisi mata air tersebut.
Inventarisasi mata air di Kabupaten Buleleng sudah pernah dilakukan oleh berbagai pihak, diantaranya Team Survey Hidrologi Sub P3.S.A. Bali (1974), PPKSA Bali (1998), JICA (2005), maupun dinas yang membidangi kehutanan di Kabupaten Buleleng. Data-data yang dihimpun lebih banyak menggambarkan kondisi fisik mata air. Sementara kondisi biofisik dan sosial SMA maupun daerah sekitar SMA belum banyak dikaji.
Keputusan Presiden RI, No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung antara lain menyebutkan bahwa konservasi SMA minimal dilakukan dalam radius 200 meter atau 12,56 ha sekitar SMA. Oleh karana itu, dalam konteks konservasi kajian terhadap kondisi SMA tidak cukup hanya dilakukan pada titik mata air saja, namun harus pula mencakup daerah radius 200 meter sekitar SMA. Oleh karena itu penelitian tentang SMA dalam cakupun hingga radius 200 meter sekitar SMA ini dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menginventarisasi keberadaan SMA di Kabupaten Buleleng, dan (2) mengidentifikasi kondisi biofisik SMA maupun daerah radius 200 meter sekitar SMA.

BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan di seluruh wilayah Kabupaten Buleleng, baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober – Nopember 2007.
Bahan dan alat yang dipergunakan merupakan perlengkapan studi lapangan, analisis data dan pelaporan. Alat-alat yang dipergunakan antara lain: GPS, alat pengukur debit, stopwatch, kamera digital, meteran, altimeter, clinometer, dan alat-alat tulis.
Secara umum jenis data yang dikumpulkan dalam kegiatan identifikasi dan inventarisasi meliputi data sekunder dan data primer.
Metode Pengumpulan Data Sekunder
Pengambilan data dilaksanakan melalui studi literatur, Perundang-undangan, Laporan-laporan, dan data grafis berupa peta-peta dasar dan teknis serta dokumen grafis kegiatan identifikasi dan inventarisasi SMA ditingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, dan BPDAS. Adapun jenis data yang dikumpulkan meliputi : (1) Data umum. Berdasarkan identifikasi peta topografi/RBI dan peta administrasi, peta DAS dan informasi lain diperoleh data/informasi awal SMA sbb.: a) Nama SMA, b) Lokasi/ letak SMA, dan c) Jumlah, penyebaran dan kondisi SMA; dan (2) Data biofisik, meliputi : a) Rata-rata kemiringan dan bentuk wilayah, b) Jenis tanah dominan, c) Jenis penggunaan lahan, dan d) Jenis batuan dominan.
Metode Pengumpulan Data primer
Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara survei/pengukuran dan wawancara dengan penduduk/masyarakat secara langsung di lapangan. Jenis informasi yang dikumpulkan meliputi:
(1) Data umum mencakup: a) Nama SMA (nama menurut penduduk setempat), b) Letak SMA terhadap status lahan (di dalam/di luar kawasan hutan).
(2) Kondisi biofisik mata air, mencakup: a) Kondisi SMA (mengalirkan air sepanjang tahun, hanya mengalirkan air pada musim hujan atau tidak mengalirkan air/mati), b) Kinerja SMA (baik, sedang, jelek).
(3) Kondisi biofisik daerah radius 200 meter sekitar SMA: a) Luas wilayah, b) Kemiringan, bentuk wilayah dan luas penyebaranya (Ha), c) Tanah (jenis, permeabilitas dan luas penyebarannya), d) Iklim (data hujan selama 10 tahun (1996-2005) bersumber dari Laporan Penyusunan Peta Iklim Provinsi Bali (2006) diolah hingga diperoleh nilai Hujan Infiltrasi (RD). Nilai RD pada radius 200 meter masing-masing SMA ditentukan berdasarkan nilai RD pada stasiun terdekat, dan e) Tingkat kekritisan resapan daerah radius 200 meter sekitar SMA.
Dalam penilaian kondisi daerah resapan sebagaimana disebutkan pada SK Dirjen RRL No. 41/Kpts/V/1998 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah, komponen-komponen lingkungan seperti telah disebutkan di atas disajikan dalam bentuk peta, kemudian diklasifikasikan sesuai kategori gayut, yaitu: jenis tanah, peta kemiringan lereng, peta penyebaran hujan, dan peta liputan lahan. Selanjutnya peta-peta tersebut di-transform (alih ragam) dalam bentuk peta potensi infiltrasi dan peta infiltrasi aktual. Secara diagramatis sekuen dan prosedur penentuan tingkat kekritisan resapan daerah radius 200 meter sekitar SMA seperti tersaji pada Gambar 1.


Gambar 1. Diagram Prosedur Penentuan Tingkat Kekritisan Resapan Daerah Radius 200 meter Sekitar SMA (PT. Citra Wahana Konsultan, 2007)

HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Jumlah dan Sebaran SMA
Dari hasil studi lapangan teridentifikasi dan terinventarisasi 213 SMA di Kabupaten Buleleng. SMA tersebut tersebar di 9 kecamatan dengan jumlah bervariasi sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1. Kecamatan Gerokgak dengan luas wilayah 35.657 ha atau 26,11% dari luas Kabupaten Buleleng memiliki SMA terbanyak, yaitu 50 SMA atau 21,65% dari jumlah teridentifikasi. Sementara Kecamatan Tejakula hanya memiliki SMA sebanyak 6 SMA atau 2,6% dari keseluruhan SMA teridentifikasi (Gambar 2).

Tabel 1. Jumlah dan Sebaran SMA di Kabupaten Buleleng
No. Kecamatan Luas Wilayah Jumlah SMA Persentase
Kecamatan (Ha) (%)
1 Gerokgak 35.657 50 21,65
2 Seririt 11.178 36 15,58
3 Busungbiu 19.662 18 7,79
4 Banjar 17.260 33 14,29
5 Buleleng 4.694 42 18,18
6 Sukasada 17.293 14 6,06
7 Sawan 9.252 23 9,96
8 Kubutambahan 11.824 9 3,90
9 Tejakula 9.768 6 2,60
Jumlah 136.588 231 100,00
Sumber : Hasil Identifikasi dan Inventarisasi, 2007

Gambar 2. Sebaran Jumlah Mata Air Menurut Kecamatan di Kabupaten Buleleng
2. Kondisi SMA
SMA di Kabupaten Buleleng sebagian besar (89,61%) dalam kondisi mengalirkan air sepanjang tahun. Namun fluktuasi pasokan air ditinjau dari stabilitas debit dari waktu ke waktu belum dikaji secara mendalam. Selain mengalirkan air sepanjang tahun, terdapat pula 1 SMA hanya mengalirkan air pada musim penghujan, dan 23 SMA tidak mengalirkan air lagi/mati (Tabel 2).
Meskipun jumlah SMA yang mengalirkan air pada musim hujan jumlahnya hanya 0,43% dari keseluruhan SMA teridentifikasi, namun dari aspek konservasi sudah merupakan peringatan bahwa jika tidak segera diantisipasi maka SMA yang sekarang masih mengalirkan air sepanjang tahun suatu ketika kondisinya dapat menurun menjadi hanya mengalirkan air pada musim hujan saja, bahkan mati. Jumlah SMA yang mati mencapai 9,96% merupakan jumlah yang cukup tinggi dan mengkhawatirkan karena menggambarkan bahwa pasokan air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat semakin menurun. Penyebab matinya SMA tersebut belum diketahui secara pasti oleh masyarakat disekitarnya. Diperkirakan beberapa SMA mati akibat adanya gempa yang menyebabkan terganggunya perlapisan batuan (BPDAS Unda Anyar dan PT. Citra Wahana Konsultan, 2007). Kemungkinan lain juga dapat disebabkan oleh memburuknya kondisi di sekitar SMA dan daerah resapan air. Sinyalemen ini cukup kuat mengingat sebagian besar hutan di Kabupaten Buleleng berada dalam kondisi potensial kritis sampai sangat kritis (Buku Statistik Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Buleleng; 2006; Bali Post, Jumat 14 Juli 2006).
Tabel 2. Kondisi SMA Teridentifikasi dan Terinventarisasi di Kabupaten Buleleng
Kondisi SMA
No. Kecamatan Mati Musim Hujan Sepanjang Tahun Total
∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1 Gerokgak 11 22,00 0 0,00 39 78,00 50 21,65
2 Seririt 6 16,67 1 2,78 29 80,56 36 15,58
3 Busungbiu 0 0,00 0 0,00 18 100,00 18 7,79
4 Banjar 0 0,00 0 0,00 33 100,00 33 14,29
5 Buleleng 5 11,90 0 0,00 37 88,10 42 18,18
6 Sukasada 0 0,00 0 0,00 14 100,00 14 6,06
7 Sawan 1 4,35 0 0,00 22 95,65 23 9,96
8 Kubutambahan 0 0,00 0 0,00 9 100,00 9 3,90
9 Tejakula 0 0,00 0 0,00 6 100,00 6 2,60
Total kabupaten 23 9,96 1 0,43 207 89,61 231 100,00
Sumber : Hasil Identifikasi dan Inventarisasi, 2007
3. Kinerja SMA
Kinerja SMA merupakan gambaran kemampuan SMA dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat pemanfaat SMA bersangkutan (PT. Citra Wahana Konsultan). Dari hasil identifikasi dan inventarisasi (Tabel 3) diketahui, bahwa 83,98% SMA berkinerja jelek atau hanya 16,02% SMA yang berkinerja sedang sampai baik. Hal ini menunjukkan, sebagian besar pasokan air dari SMA sudah tidak lagi mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat. Kondisi ini bisa disebabkan oleh debit mata air kecil atau semakin mengecil, outlet mata air tidak terkelola dengan baik sehingga air keluar melalui outlet yang terpencar dengan debit sangat kecil sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, bisa juga karena kebutuhan masyarakat yang meningkat pesat. Persoalan akan timbul jika masyarakat menjadikan SMA bersangkutan sebagai satu-satunya sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhannya.
Tabel 3. Kinerja SMA Teridentifikasi dan Terinventarisasi di Kabupaten Buleleng
No. Kabupaten Kinerja SMA Total %
Baik % Sedang % Jelek %
1 Gerokgak 0 0,00 3 6,00 47 94,00 50 100,00
2 Seririt 1 2,78 4 11,11 31 86,11 36 100,00
3 Busungbiu 1 5,56 1 5,56 16 88,89 18 100,00
4 Banjar 0 0,00 7 21,21 26 78,79 33 100,00
5 Buleleng 0 0,00 3 7,14 39 92,86 42 100,00
6 Sukasada 3 21,43 1 7,14 10 71,43 14 100,00
7 Sawan 3 13,04 2 8,70 18 78,26 23 100,00
8 Kubutambahan 3 33,33 2 22,22 4 44,44 9 100,00
9 Tejakula 2 33,33 1 16,67 3 50,00 6 100,00
Total kabupaten 13 5,63 24 10,39 194 83,98 231 100,00
4. Kondisi Daerah Radius 200 meter Sekitar SMA
4.1.1 Luas Areal Radius 200 meter Sekitar SMA
Luas areal radius 200 meter sekitar SMA merupakan luasan radius 200 meter dengan segala kondisi biofisik dan sosial yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap keberadaan SMA. Luas areal radius 200 meter sekitar SMA sama untuk setiap sumber mata air, yaitu 12,56 ha. Namun dalam kaitannya dengan efisiensi pelaksanaan konservasi perlu dihitung luas areal secara keseluruhan untuk masung-masing kecamatan. Total luasan ditentukan oleh jumlah SMA yang terdapat di wilayah tersebut. Dari hasil perhitungan diketahui, Kecamatan Gerokgak memiliki luas areal radius 200 meter sekitar SMA terluas, yaitu 628 ha, diikuti oleh Kecamatan Buleleng kemudian Seririt. Luas areal tersempit terdapat di Kecamatan Tejakula.
Tabel 4. Perbandingan Luas Areal Radius 200 meter Sekitar SMA di Kabupaten Buleleng
No. Kecamatan Jumlah SMA Luas Daerah Persentase
Radius 200 m (Ha) (%)
1 Gerokgak 50 628,00 21,65
2 Seririt 36 452,16 15,58
3 Busungbiu 18 226,08 7,79
4 Banjar 33 414,48 14,29
5 Buleleng 42 527,52 18,18
6 Sukasada 14 175,84 6,06
7 Sawan 23 288,88 9,96
8 Kubutambahan 9 113,04 3,90
9 Tejakula 6 75,36 2,60
Jumlah 231 2,901,36 100,00
4.1.2 Kondisi Tanah
Dari hasil identifikasi diketahui, jenis tanah yang dominan pada radius 200 meter sekitar SMA di Kabupaten Buleleng adalah regosol (regosol, regosol coklat kelabu, regosol coklat, regosol kelabu) mencakup 52% SMA teridentifikasi, kemudian latosol (latosol coklat, litosol, dan latosol coklat kekuningan) mencakup 42% SMA teridentifikasi, dan selebihnya berupa tanah aluvial dan mediteran (Tabel 5; Gambar 3).
Jika dikaji dari jenis tanah dominan, kemampuan tanah pada areal radius 200 meter sekitar SMA meloloskan air tergolong agak cepat sampai agak lambat. Kondisi ini menunjukan, secara alamiah tanah-tanah yang ada di sekitar SMA mempunyai permeabilitas yang tergolong sedang sampai baik. Kondisi yang demikian pada dasarnya dapat ditingkatkan dengan cara: (1) merubah penutupan lahan misal semula areal terbuka menjadi areal perkebunan atau tanaman tahunan lebih rapat atau meningkatkan pertanian polikultur (Purba dan Kaputra, 2004), (2) meningkatkan penggunaan bahan organik (Ken Giller et al., 2007), (3) meningkatkan penggunaan mulsa seresah atau sisa tanaman (Fanelli dan Dumba, 2007), dan (4) cara sipil teknis yaitu membuat sumur resapan (BPDAS Unda Anyar dan PT. Citra Wahana Konsultan, 2007).
Tabel 5. Jenis Tanah Dominan pada Areal Radius 200 meter Sekitar SMA
No. Kecamatan Jenis Tanah Jumlah SMA
1 Gerokgak Latosol Coklat dan Litosol 40
Aluvial Coklat Kelabu 8
Mediteran Coklat 2
2 Seririt Latosol Coklat dan Litosol 13
Latosol Coklat Kekuningan 3
Regosol 13
Regosol Kelabu 3
Aluvial 4
3 Busungbiu Regosol Coklat Kelabu 13
Latosol Coklat dan Litosol 5
4 Banjar Latosol Coklat Kekuningan 33
5 Buleleng Regosol Coklat Kelabu 42
6 Sukasada Andosol Coklat Kelabu 5
Regosol Coklat Kelabu 8
Regosol Kelabu 1
7 Sawan Latosol Coklat Kekuningan 3
Regosol Coklat Kelabu 20
8 Kubutambahan Regosol Coklat Kelabu 3
Regosol Coklat 6
9 Tejakula Regosol Coklat 6
Total kabupaten 231






A : Latosol Coklat dan Litosol D : Regosol Coklat G : Aluvial Coklat Kelabu
B : Latosol Coklat Kekuningan E : Regosol Kelabu H : Aluvial
C : Regosol Coklat Kelabu F : Regosol I : Mediteran Coklat
Gambar 3. Sebaran SMA Menurut Jenis Tanah di Kabupaten Buleleng
4.1.3 Lereng/Bentuk Wilayah
Lereng merupakan faktor yang ikut menentukan kemampuan lahan meloloskan air hujan. Pada lereng datar, air hujan yang jatuh mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk diubah menjadi air infiltrasi dibanding dengan lereng yang curam. Dari hasil identifikasi diketahui distribusi SMA pada berbagai kelas lereng areal radius 200 meter sekitar SMA seperti tersaji pada Tabel 6.
Mencermati hasil sebagaimana tersaji pada Tabel 6, diketahui kondisi lereng daerah radius 200 meter sekitar SMA dominan datar dan landai (62,34%), selebihnya tersebar pada kelas lereng agak curam (19,48%) dan curam/sangat curam (18,18%). Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat infiltrasi pada daerah radius 200 meter sekitar SMA mempunyai bobot 1 sampai dengan 5. Upaya untuk meningkatkan infiltrasi berkaitan dengan lereng adalah dengan memanipulasi lereng, baik panjang lereng maupun kecuramannya. Menurut Subadiasa (2006), semakin curam lereng, penipisan horison tanah semakin cepat, erosi tanah juga semakin tinggi. Erosi tanah yang tinggi menandakan bahwa air larian (runoff) semakin tinggi, yang berarti pula semakin sedikit air yang bisa diloloskan ke dalam tanah.





Tabel 6. Distribusi SMA pada Berbagai Kelas Lereng Areal Radius 200 meter Sekitar SMA
Kelas Lereng
No. Kecamatan Curam-
Sangat Curam Agak Curam Landai Datar Total Persen
(> 25%) (> 15 - 25%) (> 8 - 15%) (< 8%) (%)
∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1 Gerokgak 21 42,00 6 12,00 11 22,00 12 24,00 50 100,00
2 Seririt 2 5,56 5 13,89 10 27,78 19 52,78 36 100,00
3 Busungbiu 2 11,11 13 72,22 3 16,67 0 0,00 18 100,00
4 Banjar 4 12,12 5 15,15 7 21,21 17 51,52 33 100,00
5 Buleleng 0 0,00 1 2,38 17 40,48 24 57,14 42 100,00
6 Sukasada 3 21,43 5 35,71 6 42,86 0 0,00 14 100,00
7 Sawan 9 39,13 6 26,09 6 26,09 2 8,70 23 100,00
8 Kubutambahan 0 0,00 3 33,33 4 44,44 2 22,22 9 100,00
9 Tejakula 1 16,67 1 16,67 0 0,00 4 66,67 6 100,00
Grand Total 42 18,18 45 19,48 64 27,71 80 34,63 231 100,00
Sumber : Hasil Identifikasi dan Inventarisasi (2007)
4.1.4 Hujan Infiltrasi (RD)
Iklim merupakan faktor penting dalam menentukan besarnya air infiltrasi. Unsur iklim yang paling penting adalah curah hujan dan hari hujan. Unsur iklim ini penting karena dengan jumlah curah hujan yang tinggi akan menyebabkan jumlah air yang terinfiltrasi semakin besar, sedangkan hari hujan akan menggambarkan distribusinya selama kejadian hujan. Hujan yang terdistribusi baik dalam kurun kejadian hujan akan berpeluang lebih banyak menjadi air infiltrasi dibanding curah hujan dengan distribusi buruk. RD ditetapkan dengan cara menghitung curah hujan rata-rata tahunan x jumlah hari hujan rata-rata tahunan dibagi 100. Kemudian dilakukan pembobotan dengan katagori sebagai berikut : RD < 2500 (rendah); RD 2500 – 3500 (sedang); RD 3500 – 4500 (agak besar); RD (4500 – 5500) besar, dan RD > 5500 tergolong sangat besar.
Hasil perhitungan RD untuk masing-masing SMA di Kabupaten Buleleng dapat dilihat pada Tabel 7. Berdasarkan Tabel 7 dapat dijelaskan bahwa kondisi RD pada daerah radius 200 meter SMA dominan rendah. Kondisi yang demikian menggambarkan bahwa hujan yang terjadi di wilayah ini hanya sebagian saja yang dapat diinfiltrasikan. Sementara nilai RD besar hanya dijumpai di Kecamatan Sukasada dan Busungbiu.

Tabel 7. Jumlah Sumber Mata Air Berdasarkan Nilai Hujan Infiltrasi (RD) pada Daerah Radius 200 meter Sekitar Sumber Mata Air
Nilai Hujan Infiltrasi (RD) Total
No. Kabupaten Rendah Sedang Besar
∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1 Gerokgak 50 100,00 0 0,00 0 0,00 50 21,65
2 Seririt 36 100,00 0 0,00 0 0,00 36 15,58
3 Busungbiu 10 55,56 5 27,78 3 16,67 18 7,79
4 Banjar 33 100,00 0 0,00 0 0,00 33 14,29
5 Buleleng 42 100,00 0 0,00 0 0,00 42 18,18
6 Sukasada 2 14,29 0 0,00 12 85,71 14 6,06
7 Sawan 23 100,00 0 0,00 0 0,00 23 9,96
8 Kubutambahan 9 100,00 0 0,00 0 0,00 9 3,90
9 Tejakula 6 100,00 0 0,00 0 0,00 6 2,60
Total kabupaten 211 91,34 5 2,16 15 6,49 231 100,00

4.1.5 Kondisi Penutupan Lahan
Kondisi penutupan lahan areal radius 200 meter sekitar SMA bervariasi berupa sawah, pemukiman, tanaman semusim, peladangan (tanaman semusim/tanah kosong), semak belukar, tanaman tahunan jarang, tanaman tahunan lebat sampai berhutan (Tabel 8). Dari Tabel 8 diketahui, kondisi penutupan lahan dominan berupa tanaman tahunan jarang yang merupakan areal peladangan yang juga diperuntukkan untuk penanaman tanaman semusim pada musim hujan (39,39% dari total SMA teridentifikasi); selebihnya berupa tanaman semusim/tanah kosong (sawah, peladangan) (32,47%), tanaman tahunan lebat (24,24%), dan sisanya dalam jumlah kecil berupa areal berhutan.


Tabel 8. Jumlah SMA Berdasarkan Kondisi Penutupan Lahan Radius 200 meter Sekitar SMA
Kondisi Penutupan Lahan pada Radius 200 meter
No. Kecamatan Berhutan Tanaman Tanaman Tanaman Semusim/ Total
Tahunan Lebat Tahunan Jarang Tanah Kosong
∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1 Gerokgak 5 10,00 7 14,00 33 66,00 5 10,00 50 100,00
2 Seririt 0 0,00 2 5,56 13 36,11 21 58,33 36 100,00
3 Busungbiu 1 5,56 14 77,78 3 16,67 0 0,00 18 100,00
4 Banjar 2 6,06 7 21,21 9 27,27 15 45,45 33 100,00
5 Buleleng 0 0,00 4 9,52 15 35,71 23 54,76 42 100,00
6 Sukasada 0 0,00 6 42,86 6 42,86 2 14,29 14 100,00
7 Sawan 1 4,35 13 56,52 6 26,09 3 13,04 23 100,00
8 Kubutambahan 0 0,00 3 33,33 4 44,44 2 22,22 9 100,00
9 Tejakula 0 0,00 0 0,00 2 33,33 4 66,67 6 100,00
Grand Total 9 3,90 56 24,24 91 39,39 75 32,47 231 100,00

Dari data Tabel 8 juga dapat dijelaskan, sebagian besar tutupan lahan areal radius 200 meter sekitar SMA mempunyai kemampuan meloloskan air tergolong kecil sampai agak besar. Kondisi ini sangat rasional mengingat komposisi pemanfaatan lahan di Kabupaten Buleleng sebagian besar berupa pertanian lahan kering/tegalan (33,74%), hutan 33,74%, perkebunan 22,31%, sawah baik yang beririgasi teknis maupun tidak 7,77%, dan selebihnya kelompok lahan pekarangan dan halaman sekitar 3,32% (Buleleng Dalam Angka, 2006).
Dari dominansi tutupan lahan juga diketahui bahwa hampir seluruh areal radius 200 meter sekitar SMA merupakan lahan hak milik, baik perorangan maupun Desa Pekraman. Dalam konteks konservasi hal ini sangat penting, karena pengelolaan lahan tersebut sepenuhnya merupakan hak pemilik, maka apapun model rancangan rehabilitasinya harus melibatkan partisipasi masyarakat, terutama pemilik lahan secara optimal.
4.1.6 Tingkat Kekritisan Resapan Areal Radius 200 meter Sekitar SMA
Kekritisan lahan radius 200 meter sekitar SMA ditentukan dengan membandingkan infiltrasi potensial (hasil penampalan peta permeabilitas tanah, lereng dan RD) dengan infiltrasi aktual (nilai infiltrasi berdasarkan kondisi penutupan lahan). Kondisi kekritisan tersebut diklasifikasikan: Baik/Normal Alami, Mulai Kritis, Agak Kritis, Kritis, dan Sangat Kritis. Tingkat kekritisan resapan areal radius 200 meter sekitar SMA tersaji pada Tabel 9.
Dari Tabel 9 diketahui, sebanyak 181 (78,35%) SMA berada dalam areal radius 200 meter dalam kondisi baik/normal alami. Hanya 50 (21,65%) SMA berada dalam areal radius 200 meter yang kondisinya mulai kritis/agak kritis. Meskipun belum ada yang masuk dalam kategori kritis/sangat kritis, namun perlu diantisipasi melalui pelaksanaan rehabilitasi dan penyadaran masyarakat agar areal yang kondisinya masih baik tidak berubah menjadi semakin kritis.
Tabel 9. Jumlah Sumber Mata Air pada Berbagai Tingkat Kekritisan Resapan Areal Radius 200 Meter Sekitar Sumber Mata Air
Tingkat Kekritisan pada Radius 200 M
No. Kecamatan Baik/Normal Alami Mulai Kritis/
Agak Kritis Total
Jumlah Persen (%) Jumlah Persen (%) Jumlah Persen (%)
1 Gerokgak 31 62,00 19 38,00 50 100,00
2 Seririt 29 80,56 7 19,44 36 100,00
3 Busungbiu 16 88,89 2 11,11 18 100,00
4 Banjar 30 90,91 3 9,09 33 100,00
5 Buleleng 39 92,86 3 7,14 42 100,00
6 Sukasada 7 50,00 7 50,00 14 100,00
7 Sawan 19 82,61 4 17,39 23 100,00
8 Kubutambahan 5 55,56 4 44,44 9 100,00
9 Tejakula 5 83,33 1 16,67 6 100,00
Grand Total 181 78,35 50 21,65 231 100,00

SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
1. Jumlah SMA teridentifikasi dan terinventarisasi sebanyak 231 SMA tersebar di 9 kecamatan di Kabupaten Buleleng.
2. Dari 231 SMA teridentifikasi dan terinventarisasi, 89,61% diantaranya dalam kondisi mengalirkan air sepanjang tahun, sebanyak 23 SMA sudah tidak mengalirkan air lagi/mati, dan 1 SMA dalam kondisi mengalirkan air pada musim hujan saja.
3. Sebagian besar (83,98%) SMA berkinerja jelek, selebihnya 16,02% SMA berkinerja sedang sampai baik.
4. Jenis tanah areal radius 200 meter sekitar SMA dominan berupa regosol (regosol, regosol coklat kelabu, regosol coklat, regosol kelabu) mencakup 52% SMA teridentifikasi, kemudian latosol (latosol coklat, litosol, dan latosol coklat kekuningan) mencakup 42% SMA teridentifikasi, dan selebihnya berupa tanah aluvial dan mediteran.
5. Kondisi lereng daerah radius 200 meter sekitar SMA dominan datar dan landai (62,34%), selebihnya tersebar pada kelas lereng agak curam (19,48%) dan curam/sangat curam (18,18%).
6. Sebagian besar areal radius 200 meter sekitar SMA (91,34%) berada dalam situasi hujan infiltrasi (RD) tergolong rendah.
7. Kondisi penutupan lahan dominan berupa tanaman tahunan jarang (39,39% dari total SMA teridentifikasi), kemudian tanaman semusim/tanah kosong (sawah, peladangan) (32,47%), tanaman tahunan lebat (24,24%), dan sisanya dalam jumlah kecil berupa areal berhutan.
8. Sebanyak 181 (78,35%) SMA berada dalam areal radius 200 meter dengan kondisi baik/normal alami, sisanya 50 (21,65%) SMA kondisinya mulai kritis/agak kritis.


SARAN
1. Sumber-sumber mata air yang akan direhabilitasi perlu dikaji lebih lanjut dengan penyusunan skala prioritas (prioritas 1, 2 dan 3). Sumber mata air prioritas 1 yang terlebih dahulu dilakukan rehabilitasi.
2. Oleh karana sumber mata air mempunyai rentetan hubungan hidrologis dengan daerah resapan di bagian hulu, maka perlu dilakukan kajian secara mendalam tentang kondisi daerah resapan air untuk mata air bersangkutan. Rehabilitasi sumber mata air akan lebih berdaya guna dan berhasil guna apabila selain dilaksanakan pada lokasi sekitar SMA, sekaligus juga pada daerah resapan air.
3. Model rehabilitasi yang diusulkan untuk radius 200 meter sekitar SMA, secara fisik adalah dengan memperbaiki penutupan lahan, melaksanakan budidaya pertanian dengan konsep meminimalkan penggunaan input-input (terutama pupuk dan pestisida) dari luar kegiatan pertanian (Low External Input Sustainable Agriculture/LEISA), jika memungkinkan penerapan budidaya tanaman secara organik. Untuk lahan yang kelerengannya > 25% perlu dibuat teras-teras, sedangkan untuk lahan yang dipadati pemukiman dapat diperbanyak penanaman turus jalan dan pembuatan sumur resapan.
4. Secara sosial, pengembangan partisipasi masyarakat harus merupakan bagian dari kegiatan rehabilitasi lahan yang hendak dilaksanakan. Pengembangan tersebut dilakukan secara bertahap.
5. Perlu dilakukan pengkajian secara lebih mendalam tentang aspek sosial, ekonomi dan budaya masyarakat sekitar sumber mata air dalam hubungannya dengan pelestarian sumber mata air.

DAFTAR PUSTAKA
BPDAS Unda Anyar dan PT. Citra Wahana Konsultan. 2007. Laporan Rencana Rehabilitasi Sumber Mata Air Provinsi Bali. Denpasar, Bali.

BPS Kab. Buleleng. 2006. Buleleng Dalam Angka. Pemkab. Buleleng, Singaraja.

Dishutbun Kabupaten Buleleng. 2007. Statistik Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Buleleng Tahun 2006. Singaraja.

Fanelli, C.W. dan L. Dumba. 2007. Pertanian Konservasi di Pedesaan Zimbabwe. LEISA Indonesia. SALAM Majalah Pert. Berkelanj. 18 : 23-25.

Giller, K., M. Misiko dan P. Tittonell. 2007. Mengelola Sumber Daya Organik untuk Perbaikan Tanah. LEISA Indonesia. SALAM Majalah Pert. Berkelanj. 18 : 23-25.

JICA Study Team. 2005. The Comprehensive Study on Water Resource Development and Management in Bali Province, the Republic of Indonesia. Final Report, by Yachiyo Engineering co., Ltd. Nippon.

PPKSA Bali. 1998. Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumber Air Bali Tahun Anggaran 1997/1998. Dinas P.U. Provinsi Bali, Denpasar.
PT. Citra Wahana Konsultan. 2007. Laporan Pendahuluan Penyusunan Rencana Rehabilitasi Sumber Mata Air Provinsi Bali. Denpasar, Bali.

Purba, K.S. dan I Kaputra. 2004. Pertanian Polikultur : Ekologis dan Ekonomis. LEISA Indonesia. SALAM Majalah Pert. Berkelanj. 9 : 28-29.

Subadiyasa, N.N. 2006. Kriteria Klasifikasi Degradasi Lahan Marginal pada Hutan Terkonversi (Studi Kasus pada Landform Struktural di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau). Agritrop, Jurn. Ilmu-ilmu Pert. 25 (1) 19-28.

Tim Survey Hidrologi Sub P3.S.A. Bali. 1974. Inventarisasi Mata Air di Daerah Pantai Bali Utara. Badan Pelaksana Proyek Perancang Pengembangan Sumber-sumber Air, Dirjen Pengairan Dep. P.U. Jakarta.

Wiryatama, N.A. 2006. Akibat Kerusakan Hutan, Lahan Kritis dan Debit Air Mengecil. Bali Post, Jumat 14 Juli 2006.




kirim ke teman | versi cetak

Komentar Pengunjung

1. Tulisan Bagus
Selasa, 03 Juni 08 - oleh : Wiryana
Informasi ini cukup penting untuk melihat kondisi lingkungan di kab. buleleng, khususnya masalah air.
Dengan melihat itu, maka kebijakan pembangunan perlu mempertimbangan kondisi tersebut. Pertanyaan adakah pejabat pemegang keputusan membaca tulisan2 seperti ini?

Kalau tulisan di ringkas pasti akan lebih enak dibaca
trims

2. Bermanfaat
Kamis, 25 Juni 09 - oleh : Ismu
Saya merasa terbantu dengan informasi tentang SMA, khususnya di wilayah Gerokgak karena saya tinggal di dalam wilayah Kec. Gerokgak.
Masukan saya, untuk tata letaknya mohon untuk dipercantik lagi.
Trims

3. Bagus.
Jumat, 05 Februari 10 - oleh : Joko HS
Tulisan ini cukup bagus , merupakan kajian kawasan lindung yang luput dari perhatian orang. Areal 200 meter sekitar SMA memang harus terhindar dari budidaya yang membahayakan SMA. Usul saya bagaimana areal sekitar SMA itu (dibangun Hutan Rakyat yang menghasilkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti Kenanga, Pala, dll yang sesuai dengan kondisi setempat. Selanjutnya ditunjang industri pengolahan minyak ATSIRI.

Kirimkan Komentar Anda:
Nama Anda* :
Email Anda* :
Judul Komentar* :
Isi Komentar* :
Security Code : Security Code
Type Code* :


 

Pencarian


cari di

Kalender

Statistik Situs

[ Sejak Maret 2006 ]
 
Visitors  139589 Users
Hits 253627 hits
month 424 Users
Today 25 Users
Online 5 User(s)

Top 10 Artikel

[2738]PROBLEM SOSIAL & FUNGSI TRI PUSAT PENDIDIKAN
[1761]PARADIGMA HOLISTIK DAN KONSISTENSI KONTROL SOSIAL UNTUK MENJAGA ALAM BALI
[1253]Relevansi Nyepi dan Pemanasan Global
[1138]Indonesia dan Problem ''Renewable Energy''
[1103]Pesona Pantai LOVINA, Desa Pemaron-Buleleng.
[1083]KTT ''Climate Change'' di Bali--Mesti Beri Kontribusi Penyelamatan Alam
[1062]Kondisi Biofisik Sumber Mata Air Di Kabupaten Buleleng
[964]Rumah Jerami Hemat Energi, Pemenang Word Habitat Award 2005
[950]Masalah Sampah, Bom Waktu
[857]Pemanasan Global dan Penghematan Energi

*10 Link Terbaru

Buleleng
[14-Sep-2007 - 341 hits]
Managing Basic Education
[12-Sep-2007 - 296 hits]
Manajemen Berbasis Sekolah
[12-Sep-2007 - 299 hits]
WALHI BALI
[12-Sep-2007 - 320 hits]
Berita Bali
[11-Sep-2007 - 441 hits]
Arek Smada 76, Surabaya
[11-Sep-2007 - 239 hits]
Bali In Danger
[11-Sep-2007 - 282 hits]
Alumni SMPN 1 Singaraja,Bali
[11-Sep-2007 - 253 hits]
Dusun Butiyang
[11-Sep-2007 - 253 hits]
Kisah-Kisah Sebuah Angkatan
[02-Aug-2007 - 267 hits]
Tampilkan situs Anda di sini...
» Tambah link baru
» Browse link

 
Boy SR & Gde Wisnaya W © 2007, Allright Reserved - Powered by AuraCMS v2.1
Artikel adalah properti kontributor, isi dapat dicopy-paste dengan menyebutkan sumbernya.

IP Anda : 38.107.191.117 | Hostname: 38.107.191.117