Minggu, 18 Mei - oleh : Made Wiryana | 0 komentar | 819 hits
Jejaring Pendidikan Nasional
Jejaring pendidikan nasional adalah Wide Area Network (WAN) yang menghubungkan seluruh kantor dinas pendidikan propinsi, kabupaten/kota, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi serta masyarakat pendidikan yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia.
Jejaring ini dibuat untuk memperlancar dan mengoptimalkan arus komunikasi, data dan informasi antar pelaksana pendidikan, sehingga data dan informasi menjadi lebih optimal, lancar, transparan, efektif dan efisien.
Secara umum, Jardiknas dapat menjadi 4 zona, yaitu:
1. Zona Kantor Dinas Pendidikan / Institusi
2. Zona Perguruan Tinggi
3. Zona Sekolah
4. Zona Guru dan Siswa
1. Zona Kantor Dinas Pendidikan / Institusi
Zona ini menghubungkan kantor-kantor dinas pendidikan propinsi, kabupaten/kota, PPPG, LPMP, Balai Bahasa, SKB dan institusi pendidikan lainnya. Jaringan pada zona ini diprioritaskan untuk implementasi transaksi on line Sistem Informasi Manajemen (SIM) Pendidikan. Adapun data teknis untuk Zona ini adalah:
2. Zona Perguruan Tinggi (Inherent)
Zona ini menghubungkan perguruan tinggi yang ada pada 32 propinsi, dan disebut juga dengan Inherent (Indonesia Higher Education Network) Jaringan ini diprioritaskan untuk pelaksanaan riset dan pengembangan perguruan tinggi, sehingga menggunakan bandwidth yang cukup besar.
3. Zona Sekolah
Zona ini dikembangkan pada tahun 2007 dan direncanakan akan menghubungkan 6500 sampai 10.000 sekolah, mulai dari jenjang SD hingga SLTA ke Jardiknas, sehingga terbangun sebuah sistem teknologi informasi hingga ke jenjang sekolah. Dengan adanya koneksi ini, diharapkan dapat terbangun sistem e-learning dalam dunia pendidikan di Indonesia secara menyeluruh
Secara umum, Jardiknas zona sekolah (SchoolNet) terdiri dari 3 jenis, yaitu:
1. SchoolNet ADSL
2. SchoolNet Wireless
3. SchoolNet Wimax
3.1 SchoolNet ADSL
Tipe koneksi ini menghubungkan sekolah-sekolah yang berada di kabupaten/kota dengan Jardiknas melalui jalur ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line).
Dengan menggunakan teknologi ADSL, maka komunikasi suara dan data dapat dilaksanakan secara parallel dengan hanya menggunakan 1 jalur kabel tembaga saja, sehingga untuk koneksi ke Jardiknas maupun internet cukup dengan menggunakan jalur telepon yang sudah ada.
3.2 SchoolNet Wireless
Sehubungan dengan terbatasnya teknologi ADSL untuk dapat digunakan di seluruh wilayah Indonesia dan dengan memanfaatkan infrastruktur dari program WAN Kota maupun ICT Center yang telah dikembangkan oleh Depdiknas sejak tahun 2004, maka kolaborasi antara program Jardiknas dengan Wan Kota serta ICT Center dilakukan dalam bentuk program SchoolNet Wireless.
Secara umum, program ini memanfaatkan infrastruktur yang telah ada di kabupaten kota dari program ICT Center, berupa perangkat Wireless 2,4 GHz.
Program ini amat sesuai dikembangkan di daerah rural yang memiliki topografi cenderung datar, karena dengan menggunakan perangkat Wireless yang ada, maka titik koneksi yang ada dapat meliputi area seluas 3-5 Km dari jarak pemancar. Apabila hendak memperluas koneksi, maka tinggal menambahkan Base Transceiver Station (BTS) yang akan menjembatani antara satu cell (cakupan pancaran) dengan cell yang lain.
3.3 SchoolNet Wimax
Salah satu ciri utama teknologi adalah selalu berkembang dan berubah seiring dengan pergeseran waktu dan jaman. Teknologi Wireless yang bekerja pada rentang frekwensi 2,4 GHz memiliki beberapa keterbatasan, diantaranya adalah jarak pancar yang relatif dekat dan keharusan LOS (Line of Sight).
Frekwensi 2,4 GHz menggunakan standard IEEE 802.11 yang disebut juga dengan Wi-Fi. Untuk menghadapi kendala tersebut, maka dikembangkanlah teknologi Wimax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) yang dikembangkan pada bulan Juni tahun 2001 menggunakan standar IEEE 802.16.
Standar WiMax pada awalnya dirancang untuk rentang frekuensi 10 s.d. 66 GHz. 802.16a, diperbaharui pada 2004 menjadi 802.16-2004 (dikenal juga dengan 802.16d) menambahkan rentang frekuensi 2 s.d. 11 GHz dalam spesifikasi. 802.16d dikenal juga dengan fixed WiMax, diperbaharui lagi menjadi 802.16e pada tahun 2005 (yang dikenal dengan mobile WiMax) dan menggunakan orthogonal frequency-division multiplexing (OFDM) yang lebih memiliki skalabilitas dibandingkan dengan standar 802.16d yang menggunakan OFDM 256 sub-carriers. Penggunaan OFDM yang baru ini memberikan keuntungan dalam hal cakupang, instalasi, konsumsi daya, penggunaan frekuensi dan efisiensi pita frekuensi. WiMax yang menggunakan standar 802.16e memiliki kemampuan hand over atau hand off, sebagaimana layaknya pada komunikasi selular. Dengan menggunakan WiMax, maka hanya dibutuhkan sebuah BTS dengan rentang jarak 30-50 Km, yang berarti untuk sebuah kota atau kabupaten hanya dibutuhkan 1 BTS untuk menjangkau seluruh sekolah di wilayah tersebut. Kecepatan transfer data juga dapat dilakukan secara teoritis dengan kecepatan 70 MBps, jauh diatas kecepatan Wi-Fi yang “hanya” 11-54 MBps.
4. Zona Guru dan Siswa
Pengembangan Jardiknas tidak hanya berhenti pada institusi, tetapi juga diteruskan kepada aspek manusia yang bersentuhan langsung dengan pendidikan, yaitu guru dan siswa.
Masih sering terdengar dalam berbagai berita dan media informasi lainnya, yang menyebutkan bahwa biaya internet Indonesia termasuk yang termahal di dunia, juga alangkah sulitnya untuk memperoleh koneksi tersebut. Jadi sudah mahal, sulit pula diperoleh. Salah satu zona yang dikembangkan dalam program Jardiknas adalah Zona Guru dan Siswa yang disebut juga TeacherNet dan StudentNet. Zona ini diharapkan dapat menghubungkan setiap guru dan siswa dengan jardiknas di rumah masing-masing sehingga proses pembelajaran berbasis IT dapat dilaksanakan mulai dari sekolah hingga ke rumah. Teknologi yang akan dikembangkan untuk zona guru dan siswa ini adalah perpaduan dari Wireless, ADSL, 3G, GPRS, CDMA maupun Dialup, yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan teknologi yang ada di masing-masing kabupaten/kota.
Sampai saat ini proses koordinasi untuk program guru dan siswa masih berlangsung, dan diharapkan sudah dapat dinikmati di beberapa
kabupaten/kota pada tahun 2007 ini.
B. Fasilitas dan Layanan Jardiknas
Selain sistem jaringan pada jejaring pendidikan nasional, yang kini dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Depdiknas juga memberikan beberapa fasilitas dan layanan kepada pengguna dari jejaring tersebut, yaitu:
a. memberikan layanan telepon via intranet secata gratis (Free Intranet Telephone Pendidikan dengan menggunakan sistem VOIP-Edu),
b. menyedikan layanan konferensi dengan menggunakan video (Video Conference System),.
c. membuat dan memfasilitasi Data Center dan Colocation Server,
d. memberikan layanan akses internet (sampai pada minimal 50 Mbps Internasional & 100 Mbps IIX),
e. memberikan Web hosting untuk sekolah-sekolah
(sampai pada kapasitas 200 Mb Space),
f. menyediakan layanan Email untuk pegawai dalam lingkup dinas pendidikan (sampai pada kapasitas 1 GB Mailbox untuk setiap pengguna – user@diknas.go.id),
g. memfasilitasi adanya Call Center & Helpdesk Service, dan
h. menyediakan dukungan teknis (Technical Support Online).
Info detail lihat www.wiryana-holistic.blogspot.com