Mengimplementasikan ''Yadnya Kerthi'', Menjaga ''Kesehatan'' Bumi
Sabtu, 08 Desember 200 - oleh : admin | 0 komentar | 506 hits
BALIPOST, 8 DESEMBER 2007
Sejatinya, leluhur manusia Bali telah mewariskan berbagai kearifan guna menuntun generasi pewarisnya menjaga, merawat, dan mengelola kekayaan bumi ini dengan bijaksana. Bukan justru ''menistakan'' bumi ini dengan mengeksploitasinya secara membabi buta. Kearifan lokal itu diimplementasikan lewat rangkaian aktivitas yang mensinergikan secara harmonis antara yadnya (ritual keagamaan-red) dengan kerthi (perbuatan nyata-red). Sejauh mana masyarakat telah memahami hari-hari raya yang berkaitan dengan bumi beserta isinya bagi umat? ============================================================
Ditemui Jumat (7/12) kemarin, Dekan Fakultas Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Drs. I Wayan Suka Yasa, M.Si. dan Kasubdin Adat-Istiadat Dinas Kebudayaan Propinsi Bali Drs. I Dewa Putu Beratha, M. Si. menegaskan sejatinya banyak sekali kearifan lokal yang wajib diimplementasikan guna menjaga ''kesehatan'' bumi ini. Jika dilaksanakan dengan penuh kesadaran, kearifan-kearifan lokal itu dipastikan akan membebaskan umat manusia dari segala bencana karena bumi sebagai sebuah sistem kehidupan akan berjalan harmonis.
''Sejatinya, para leluhur manusia Bali telah mewariskan begitu banyak tuntunan yang mengarahkan generasi penerusnya untuk bisa menjalani kehidupan ini dengan tenang dan damai. Mengapa leluhur kita di masa lampau menciptakan begitu banyak perayaan, tentu saja ada maksudnya. Pada momen itulah kita diingatkan untuk tetap menjaga dan merawat bumi ini dengan sebaik-baiknya,'' kata Suka Yasa yang dibenarkan oleh Beratha.
Suka Yasa dan Beratha tidak menampik, esensi yang terkandung dalam perayaan hari-hari besar keagamaan itu kini terkesan dimaknai secara tidak utuh. Acapkali, kesuksesan sebuah perayaan hari besar keagamaan hanya ditakar apakah upacara ritual keagamaan atau yadnya itu sudah berlangsung dengan baik atau tidak. Sementara dimensi kerthi yang terwujud dalam aksi nyata terkesan kurang diberikan ruang bahkan terabaikan sama sekali.
''Ini sebuah kontradiksi yang seringkali terjadi belakangan ini. Di satu sisi kita begitu suntuk melakukan upacara yadnya untuk mendoakan keselamatan bumi ini. Namun, di sisi lain kita jarang sekali melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan bumi ini, bahkan justru terlibat dalam tindakan perusakan lingkungan. Yadnya tanpa kerthi atau ritual tanpa disertai perbuatan nyata jelas tidak akan membuahkan suatu hasil yang optimal,'' kata Suka Yasa mengkritisi.
Hakikat Tumpek
Suka Yasa dan Beratha menambahkan, momen perayaan Tumpek Uduh yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wariga pada hekikatnya merupakan aktivitas yang sangat pro-lingkungan. Pada hari itu, umat Hindu memuja Dewa Sangkara yakni sinar suci Tuhan yang merupakan dewa dari segala jenis tumbuh-tumbuhan. Esensi dari ritual ini, mendoakan segala jenis tumbuhan bisa tumbuh berkembang dengan subur sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
''Konsepsi ini tercantum dalam Lontar Sundarigama. Agar tumbuh-tumbuhan itu bisa memberikan manfaat optimal bagi kehidupan manusia, prosesi ritual itu tentu saja harus disertai dengan aksi nyata di mana manusia harus menjaga dan merawat tumbuh-tumbuhan itu dengan sebaik-baiknya. Bukan sebaliknya, membabat habis tumbuh-tumbuhan itu,'' kata Beratha yang dibenarkan oleh Suka Yasa.
Dalam konteks aksi nyata, kata kedua sumber Bali Post itu, Tumpek Uduh itu diimplementasikan dalam bentuk wana kerthi seperti kegiatan pelestarian hutan atau segala jenis tumbuh-tumbuhan agar tetap lestari. Bisa juga berbentuk kegiatan reboisasi atau penanaman kembali hutan-hutan yang telah gundul akibat illegal logging maupun kegiatan perusakan hutan lainnya. Dalam tataran yang lebih sempit, wujud wana kerthi itu bisa dilaksanakan oleh masing-masing keluarga dengan menanami pekarangan rumahnya dengan tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat. ''Pada Tumpek Uduh, umat sangat dianjurkan menanam tumbuh-tumbuhan dan sangat diharamkan menebang pepohonan,'' kata Beratha.
Hal senada juga dilontarkan Suka Yasa. Menurut pria bertubuh tambun ini, wana kerthi sangat terkait dengan pelaksanaan danu kerthi dan samudra kerthi yang merupakan implementasi pelestarian sumber-sumber air seperti danau, sungai dan lautan. Ditegaskan, sumber air yang merupakan sumber kehidupan umat manusia jelas akan kritis jika ekosistem hutan dan lahan terbuka hijau tidak lestari lagi. Daerah resapan air itu akan kehilangan fungsinya sehingga kucuran air yang menghidupi manusia juga kering-kerontang.
''Sebenarnya, begitu banyak kearifan lokal yang diwariskan leluhur untuk kita implementasikan dengan penuh kesadaran sehingga kehidupan kita tidak sengsara. Sayangnya, kita sering mengabaikan dan melanggar rambu-rambu yang telah digariskan para leluhur tersebut,'' katanya menyesalkan.
Hidup Harmonis
Selain memuliakan keberadaan tumbuh-tumbuhan, katanya, kearifan lokal juga menuntun manusia Bali untuk menyemai kasih sayang terhadap binatang. Kasih sayang itu direfleksikan dalam bentuk perayaan Tumpek Kandang yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Uye. Pada momen ini, umat Hindu memuja Dewa Siwa dalam wujud Sang Hyang Rare Angon. Dalam konteks ini, umat manusia dituntut bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan binatang.
''Dalam aksi nyata, kita dituntut memelihara binatang itu dengan sebaik-baiknya karena mereka akan mempermudah hidup manusia. Binatang juga sebagai sumber nutrisi yang akan menjaga kelangsungan hidup manusia. Agar binatang itu bisa memberikan kelangsungan hidup yang tak terputus kepada manusia, kita diwajibkan menjaga habitat itu dengan sebaik-baiknya. Misalnya, habitat ikan-ikan konsumsi di laut jangan dirusak dengan potasium, ledakan bom dan sejenisnya. Jika habitat ikan-ikan itu rusak, maka kelangsungan hidup ikan-ikan itu pun terancam yang berarti juga mengancam sumber nutrisi umat manusia. Kearifan lokal manusia Bali telah mengajarkan bagaimana kita harus menjaga harmonisasi dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan sehingga kehidupan manusia menjadi jauh lebih mudah,'' katanya mengingatkan.
Suka Yasa menambahkan, kearifan lokal yang pro-lingkungan juga tersaji dalam perayaan Sabuh Mas yang jatuh setiap Anggara Wage Sinta. Pada kesempatan itu, umat Hindu memuja Dewa Mahadewa yang merupakan dewa kekayaan. Di samping membutuhkan makanan dan minuman, dalam menjalani kehidupan manusia juga sangat tergantung dengan kekayaan alam seperti logam mulia untuk perhiasan dan benda-benda seni maupun material-material lain untuk mendukung pembangunan seperti batu-batuan, pasir dan bahan tambang minyak bumi yang umumnya terkandung di ''perut'' bumi. Umat manusia harus bijaksana memanfaatkan kekayaan alam itu alias tidak mengeksploitasinya secara membabi buta. Jangan semuanya dikuras habis. Jika keserakahan telah membutakan mata hati manusia, maka alam akan murka. Maka, terjadi bencana mahadahsyat seperti kasus Lapindo dan sejenisnya yang akhirnya membuat umat manusia terpuruk dalam kesengsaraan hidup yang berkepanjangan.
''Di luar ketiga perayaan itu, kita juga merayakan Pagerwesi, Saraswati, Nyepi dan parayaan-perayaan keagamaan lainnya yang menuntun kita untuk senantiasa introspeksi. Mulat sarira untuk merenungi kesejatian kehidupan kita yang sangat tergantung dengan alam lingkungan. Jika alam lingkungan di dunia ini rusak berantakan lantaran keserakahan manusia, maka manusia pula yang harus menanggung beban berat dari perbuatan yang dilakukannya. Suhu bumi meningkat, permukaan air laut naik menenggelamkan pulau-pulau dan sejumlah bencana dahsyat lainnya. Sejatinya, leluhur manusia Bali telah mewariskan berbagai kearifan lokal yang menuntun kita untuk memperlakukan alam dengan bijaksana. Sayang, kita seringkali melupakan kearifan lokal itu,'' ujarnya.
Lebih lanjut, Suka Yasa dan Beratha mengaku sangat mendukung jika berbagai kearifan lokal Bali didengungkan ke seantero dunia. Pasalnya, segala kearifan lokal itu sudah nyata-nyata sangat konstruktif untuk memulihkan ''kesehatan'' bumi yang saat ini tengah sekarat. Dan, momen yang tepat untuk kepentingan itu terbuka luas pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim yang saat ini tengah berlangsung di Nusa Dua, Bali. Salah satu kearifan lokal yang perlu disosialisasikan untuk selanjutnya bersama-sama diimplementasikan oleh segenap umat manusia di planet bumi ini adalah Nyepi.
Perayaan Nyepi yang sudah dilakoni dengan khusyuk oleh manusia Bali sejak ribuan tahun lalu itu memberikan kesempatan kepada bumi untuk kembali menghirup udara segar yang terbebas dari segala polusi. ''Meskpiun hanya berlangsung selama sehari dalam setahun, perayaan Nyepi itu terbukti mampu memberikan kontribusi yang sangat besar bagi upaya pemulihan kesehatan bumi. Andai saja Nyepi itu bisa dirayakan di seluruh dunia, kita bisa berharap upaya pemulihan kesehatan bumi tentu hasilnya akan jauh lebih optimal,'' kata Beratha yang didukung oleh Suka Yasa.
* w. sumatika