Denpasar (Bali Post) -
Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma berharap pelaksanaan KTT internasional tentang perubahan iklim atau climate change awal Desember nanti di Nusa Dua, dapat memberikan kontribusi terhadap upaya menyelamatkan alam dan lingkungan hidup di Bali. Menurut Suwisma, KTT tersebut memiliki makna yang sangat strategis untuk menjaga kelangsungan lingkungan alam global kini dan masa mendatang. Selain itu juga menyelamatkan masa depan generasi mendatang. Oleh sebab itu semua masyarakat harus ikut berpatisipasi di dalamnya.
Hal itu dikatakannya saat dihubungi di Wisma Bali Centre, Denpasar, Senin (12/11) kemarin. Saat itu ia didampingi DR. (HC) Made Mangku, aktivis lingkungan.
Suwisma juga mengimbau agar masyarakat Bali secara bersama-sama ikut menyukseskan pelaksanaan KTT dengan ikut aktif menjaga keamanan dan ketertiban. Keramahtamahan dan budaya masyarakat Bali yang sudah terkenal di mancanegara juga perlu dikedepankan, agar para delegasi yang datang ke Bali merasa betah selama mengikuti KTT. ''Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mempromosikan Bali kepada dunia internasional. Bahwa Bali itu aman dan nyaman untuk dikunjungi lagi,'' ujar Suwisma.
Sejuta Kemiri
Terkait gerakan penghijauan yang telah dilakukan, ia mengatakan akan terus dilaksanakan. Apalagi memasuki bulan November ini hujan sudah turun hampir merata di seluruh kawasan di Bali. Musim penghujan merupakan momentum yang tepat untuk melakukan penghijauan. Apalagi untuk menanam pohon kemiri, yang memang sangat membutuhkan air pada awal penanamannya.
Gerakan Penghijauan Sejuta Kemiri yang telah dicanangkan Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma, Ketua Pembina Yayasan Citra Dewata Sentosa, akan terus dilanjutkan. Program ini merupakan kerja sama dengan Kodam IX/Udayana beserta jajarannya di Bali. Gerakan penghijauan tersebut telah dicanangkan sejak bulan Maret 2007, bertepatan dengan pelaksanaan TMMD ke-78 (TNI Manunggal Membangun Desa), di Kintamani oleh Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Syaiful Rizal. Gerakan Penghijauan tersebut juga melibatkan berbagai lapisan masyarakat, seperti desa adat, kelompok tani, sekaa teruna, LSM, instansi pemerintah dan perguruan tinggi.
Pada saat awal pencanangan telah berhasil ditanam 23 ribu bibit kemiri di empat kabupaten, yaitu Bangli, Buleleng, Tabanan dan Badung. Masa tenggang antara bulan April hingga Oktober yang lalu digunakan untuk mengadakan pembibitan yang dilakukan di Desa Perean Tabanan, dan Banyuning Buleleng.
''Gerakan Penghijauan dengan sejuta pohon kemiri ini terus kita lanjutkan sampai tuntas. Yayasan kini sudah menyediakan 300 ribu bibit tanaman kemiri siap tanam. Fokus penghijauan saat ini akan diarahkan pada lahan kritis di Kabupaten Karangasem dan Klungkung, khususnya Nusa Penida. Dua kabupaten tersebut tercatat memiliki lahan kritis terluas di Bali, selain Kabupaten Buleleng,'' kata Suwisma.
Menurut Sang Nyoman Suwisma, sejuta pohon kemiri yang akan ditanam tersebut baru bisa digunakan untuk menyelamatkan 10 ribu hektar lahan kritis, dari 55 ribu lahan kritis yang ada di Bali. Made Mangku menambahkan, gerakan penghijauan merupakan aktivitas yang berkesinambungan dalam jangka waktu yang cukup panjang dan sistematis. ''Penghijauan tidak bisa dilakukan sekali, lalu selesai,'' ujarnya.
Untuk mengatasi luasnya lahan kritis di Bali diperlukan adanya perhatian dan partisipasi semua pihak. ''Gerakan penghijauan dilakukan bukan semata-mata untuk penghijauan, tetapi diharapkan dapat memberikan dampak yang luas bagi kesejahteraan masyarakat Bali,'' kata Made Mangku.
Yayasan Citra Dewata Sentosa juga tengah menyiapkan 1.500 bibit pohon pisang unggul yang tahan virus busuk akar dan batang. Bibit pisang tersebut akan dibagikan kepada kelompok-kelompok tani yang ingin mengembangkan tanaman pisang di Bali. (r/*)