Situs LSM  LP3B Buleleng
| home | buku tamu | kirim artikel | download | forum | recommend | kontak |

Rubrik

Serba Serbi (umum)
Olahraga
Sain dan Teknologi
Seni & Budaya
Pendidikan
Lingkungan
Sosial, Politik & Ekonomi
Parlementaria
Energi
Pertanian Organik
ARSIP LAWAS LP3B
Global Warming & Climate Change

Top 10 Download

Buku Tamu dgn Turing number (957)
Pesan Singkat dgn Turing number (834)
PIXresizer (764)
Modul Komentar Terakhir (756)

Powered by








 

Relevansi Nyepi dan Pemanasan Global

Senin, 12 Nopember 200 - oleh : admin | 1 komentar |   1253 hits

Oleh K.G. Dharma Putra

TERPILIHNYA Bali sebagai lokasi yang dijadikan ajang pertemuan bagi pemerintah di seluruh dunia yang akan membahas isu perubahan iklim merupakan momentum yang sangat penting bagi masyarakat Bali. Pulau Bali yang demikian kecil bila dibandingkan pulau-pulau lainnya di belahan dunia ini, tentu tidak terlalu berperan dalam proses naiknya suhu rata-rata permukaan bumi. Namun pulau yang dikenal sebagai pulau kahyangan ini, ternyata memiliki nilai-nilai budaya yang diyakini dan dilaksanakan secara sadar oleh masyarakatnya, yang sangat relevan dengan permasalahan dunia saat ini, yakni pemanasan global.

-------------


Pemanasan global terjadi karena peningkatan gas rumah kaca, yakni gas di udara yang terletak di atas lapisan permukaan bumi (atmosfer) yang menyebabkan panas dari matahari dipantulkan kembali ke bumi sehingga suhu di bumi semakin panas. Aktivitas manusia di bumi untuk memenuhi kebutuhannya terhadap kenikmatan duniawi, seperti kegiatan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya seperti transportasi, keindahan, kemewahan, keamanan, dan kenyamanan hidup lainnya, telah berdampak terhadap peningkatan suhu bumi. Hal tersebut kemudian berdampak pada perubahan pola musim sehingga mengganggu kegiatan pertanian, peternakan dan aktivitas lainnya yang bergantung pada alam. Dampak ikutan seperti kepunahan spesies tertentu, berkembangnya jenis penyakit baru, abrasi dan erosi, banjir dan tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, hingga berkurangnya sumber air berimbas pada masalah sosial budaya dan politik. Masalah yang kalau tidak segera dicarikan solusinya, akan menimbulkan kehancuran yang sangat besar bagi peradaban umat manusia. Kehancuran yang tidak mungkin dikembalikan ke wujud sebelumnya. Oleh karena itu, momentum yang sangat berharga tersebut perlu dimanfaatkan secara cerdas oleh masyarakat Bali agar dapat memberikan peran yang besar dalam perhelatan akbar tersebut.



Menyucikan Jagat Raya

Masyarakat di Bali telah memaknai perayaan Nyepi sebagai upaya menyucikan jagat raya (bhuwana agung) dan individu (bhuwana alit) dengan melakukan puasa (brata) penyepian yang terdiri atas amati gni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (berpantang menghibur diri/menghentikan kesenangan), amati lelungaan (tidak bepergian), dan amati karya (tidak bekerja). Sebelumnya telah dilakukan kegiatan pembersihan simbol-simbol keyakinan masyarakat terhadap Tuhan beserta segala kekuatan dan ciptaan-Nya dengan melaksanakan melasti ke sumber air/mata air atau laut dan dilanjutkan dengan persembahan kepada butha kala dalam bentuk caru tawur kasanga. Dengan melaksanakan catur brata penyepian masyarakat Bali berharap agar dapat terwujud suatu kehidupan yang jagathita, baik di dalam lingkungan keluarga maupun di lingkungan yang lebih luas.

Secara sadar, masyarakat Bali telah melaksanakan prinsip dasar yang menjadi perhatian para ahli lingkungan di seluruh dunia saat ini, yakni tanggung jawab bersama untuk melindungi bumi dari pencemaran emisi gas buang kendaraan dengan melakukan yoga semadi. Pemaknaan Nyepi sebagai aktivitas spiritual yang membumi ternyata berdampak langsung kepada berkurangnya penggunaan bahan bakar minyak dari aktivitas transportasi yang merupakan sumber terbesar pemanasan global.



Mandat dari Bali

Pembahasan tentang masalah perubahan iklim telah lama dilakukan oleh pemerhati dan ahli lingkungan hidup di dunia. Tahun 1979 pada Konferensi Iklim Dunia yang diadakan Badan Meterologi Dunia (World Metereological Organization) telah menemukan adanya bukti-bukti ilmiah tentang pengaruh aktivitas manusia terhadap perubahan iklim. Dampak gas karbondioksida dan gas rumah kaca lainnya terhadap perubahan suhu bumi dibahas kembali pada tahun 1985 di Austria oleh program lingkungan PBB (UNEP -- United Nations Environment Programme) dan disimpulkan bahwa kenaikan suhu bumi melebihi peningkatan yang pernah ada dalam sejarah umat manusia akan diakibatkan oleh peningkatan gas rumah kaca. Tahun 1990, panel antar pemerintah mengenai perubahan iklim (IPCC -- Intergovermental Panel on Climate Change) melaporkan bahwa perubahan iklim dipastikan sebagai ancaman bagi kehidupan manusia dan menyerukan pentingnya kesepakatan global untuk mengatasinya. Protocol Kyoto yang ditetapkan pada Desember 1997 merupakan kesepakatan global untuk upaya penurunan emisi oleh negara industri pada periode 2008-2012.

Dalam percaturan politik global yang banyak dipengaruhi intrik dan kepentingan yang beragam, Bali telah mendapat tempat sangat terhormat sebagai tempat konferensi para pihak atau COP13 UNFCCC dan pertemuan para pihak atau MOP (Meeting of the Parties) ke-3 Protocol Kyoto (disingkat COP13/CMP3). Pertemuan tingkat dunia tersebut dipercaya akan dapat menghasilkan mandat dari Bali yang menjadi pedoman bagi upaya mengatasi pemanasan global di dunia.

Sungguh sebuah kebanggaan, apabila perhelatan akbar di Bali bulan Desember 2007 ini benar-benar dijadikan momentum bagi masyarakat dunia untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Ketakutan akan tenggelamnya kawasan Kuta, Sanur, Nusa Dua dan kawasan pesisir lainnya bisa sirna. Mandat dari Bali bisa dijadikan sebuah bhisama yang harus dipatuhi oleh seluruh pemerintahan di dunia, khususnya negara-negara industri yang memiliki ideologi merusak alam atas nama kemakmuran.

Masyarakat Bali, walaupun mendiami sebuah pulau kecil namun penuh makna pencerahan. Bhisama yang merupakan perwujudan keadilan iklim di mana setiap orang mempunyai hak yang setara untuk menghirup udara bersih, mengalami kestabilan iklim dan bebas dari dampak perubahan iklim perlu diberikan tempat yang sepadan dalam menyuarakan nilai-nilai kearifan lokal bagi keselamatan bumi. Perayaan Nyepi yang telah terbukti mampu mengurangi pengeluaran gas rumah kaca telah membuktikan komitmen nyata masyarakat Bali dalam ikut berperan mengurangi pemanasan global, sehingga pantas untuk dijadikan ikon upaya penyelamatan bumi dari dampak pemanasan global.



Penulis, peneliti lingkungan hidup dari FMIPA Universitas Udayana Bali

--------------------------------------------------

* Momentum yang sangat berharga perlu dimanfaatkan secara cerdas oleh masyarakat Bali agar dapat memberikan peran yang besar.

* Mandat dari Bali bisa dijadikan sebuah bhisama yang harus dipatuhi oleh seluruh pemerintahan di dunia.

* Perayaan Nyepi yang telah terbukti mampu mengurangi pengeluaran gas rumah kaca telah membuktikan komitmen nyata masyarakat Bali dalam ikut berperan mengurangi pemanasan global.

kirim ke teman | versi cetak

Berita Global Warming & Climate Change Lainnya

Belajar Bijak kepada Bumi
Perubahan Iklim Bukan Tanggung Jawab Parsial
Pertemuan Nusa Dua,Apa Manfaatnya bagi Bali?
Pemanasan global.
Pemanasan Global dan Penghematan Energi
KTT ''Climate Change'' di Bali--Mesti Beri Kontribusi Penyelamatan Alam
Deklarasi perubahan iklim

Komentar Pengunjung

1. pendaPt
Senin, 10 Maret 08 - oleh : phee
situs ini cukup membantu menjelaskan keadaan yang sedang terjadi belakangan ini. Terimakasih atas artikel tentang global warmingnya yang cukup akurat. sangat membantu saya menyelesaikan tugas. Tapi, untuk saran semoga bisa lebih akurat lagi dengan topik-topik yang lain dengan data yang akurat dan nyata.

Kirimkan Komentar Anda:
Nama Anda* :
Email Anda* :
Judul Komentar* :
Isi Komentar* :
Security Code : Security Code
Type Code* :


 

Pencarian


cari di

Kalender

Statistik Situs

[ Sejak Maret 2006 ]
 
Visitors  139581 Users
Hits 253619 hits
month 424 Users
Today 25 Users
Online 3 User(s)

Top 10 Artikel

[2738]PROBLEM SOSIAL & FUNGSI TRI PUSAT PENDIDIKAN
[1761]PARADIGMA HOLISTIK DAN KONSISTENSI KONTROL SOSIAL UNTUK MENJAGA ALAM BALI
[1253]Relevansi Nyepi dan Pemanasan Global
[1138]Indonesia dan Problem ''Renewable Energy''
[1103]Pesona Pantai LOVINA, Desa Pemaron-Buleleng.
[1083]KTT ''Climate Change'' di Bali--Mesti Beri Kontribusi Penyelamatan Alam
[1061]Kondisi Biofisik Sumber Mata Air Di Kabupaten Buleleng
[964]Rumah Jerami Hemat Energi, Pemenang Word Habitat Award 2005
[950]Masalah Sampah, Bom Waktu
[857]Pemanasan Global dan Penghematan Energi

*10 Link Terbaru

Buleleng
[14-Sep-2007 - 341 hits]
Managing Basic Education
[12-Sep-2007 - 296 hits]
Manajemen Berbasis Sekolah
[12-Sep-2007 - 299 hits]
WALHI BALI
[12-Sep-2007 - 320 hits]
Berita Bali
[11-Sep-2007 - 441 hits]
Arek Smada 76, Surabaya
[11-Sep-2007 - 239 hits]
Bali In Danger
[11-Sep-2007 - 282 hits]
Alumni SMPN 1 Singaraja,Bali
[11-Sep-2007 - 252 hits]
Dusun Butiyang
[11-Sep-2007 - 253 hits]
Kisah-Kisah Sebuah Angkatan
[02-Aug-2007 - 267 hits]
Tampilkan situs Anda di sini...
» Tambah link baru
» Browse link

 
Boy SR & Gde Wisnaya W © 2007, Allright Reserved - Powered by AuraCMS v2.1
Artikel adalah properti kontributor, isi dapat dicopy-paste dengan menyebutkan sumbernya.

IP Anda : 38.107.191.117 | Hostname: 38.107.191.117