KEMAJUAN ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) membawa berbagai tingkat kehidupan yang semakin baik dan tinggi. Sebagai ekses kemajuan ini menimbulkan banyak kerugian, bahkan bencana yang dahsyat terhadap bumi dan lingkungan. Untuk menghindari kehancuran yang lebih parah, banyak harapan yang digantungkan pada pelaksanaan Konferensi Pemanasan Global, Desember mendatang di Nusa Dua, Bali.
Harapan tersebut tidaklah berlebihan. Namun yang perlu terus dilakukan untuk menghindari kehancuran, dalam penerapan ilmu pengetahun dan teknologi tersebut perlu disikapi dengan komitmen serta etika yang tinggi. Kemajuan iptek ini perlu diketahui, dipahami, dan dikelola dengan baik. Untuk itu perlu dipikirkan dan dicari suatu model pengelolaan yang sesuai, tepat, dan selalu dikembangkan.
Industri terutama industri otomotif misalnya menyumbang kerusakan ozon cukup besar. Bisa dibayangkan berapa banyaknya kendaraan di jalanan yang membuang zat-zat penghancur ozon. Jika ini terus dibiarkan tanpa upaya mencari solusi baru, dunia akan semakin panas. Karenanya dalam 40 Tahun Motor Tokyo Show di Jepang, 24 Oktober hingga 11 November 2007 lalu, para produsen otomotif dunia menampilkan teknologi canggih mobil masa depan hibrida yang ramah lingkungan. Meski kehadiran mobil-mobil hibrida bukan satu-satunya jawaban pemecahan masalah, tetapi merupakan bagian dari jawaban untuk memecahkan berbagai persoalan yang bisa menimbulkan kerusakan bumi.
Di Bali jauh sebelum badan dunia PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) mengangkat isu pemanasan global telah melaksanakan pembersihan terhadap bumi. Kepedulian para leluhur Bali terhadap bumi dapat dilihat dari pelaksanaan hari raya Nyepi setahun sekali. Saat Nyepi, bumi (udara) Bali benar-benar bebas dari buangan asap kendaraan. Demikian pula terjadi penghematan BBM (bahan bakar minyak) yang sangat besar. Masyarakat Bali secara sadar telah melaksanakan prinsip dasar yang menjadi perhatian para ahli lingkungan di seluruh dunia saat ini, yakni tanggung jawab bersama untuk melindungi bumi dari pencemaran emisi gas buang kendaraan dengan melakukan yoga semadi. Pemaknaan Nyepi sebagai aktivitas spiritual yang membumi ternyata berdampak langsung kepada berkurangnya penggunaan bahan bakar minyak dari aktivitas transportasi yang merupakan sumber terbesar pemanasan global.
Masyarakat di Bali telah memaknai perayaan Nyepi sebagai upaya menyucikan jagat raya (bhuwana agung) dan individu (bhuwana alit) dengan melakukan puasa (brata) penyepian yang terdiri atas amati gni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (berpantang menghibur diri/menghentikan kesenangan), amati lelungaan (tidak bepergian), dan amati karya (tidak bekerja).
Semakin rusaknya lapisan ozon sehingga sinar matahari terhalang melakukan swadharma alaminya memberikan sumber hidup pada isi alam ini. Rusaknya Bhuwah dan Swah Loka karena rusaknya perilaku manusia di Bhur Loka.
Karena itulah kita -- masyarakat dunia -- dalam pertemuan Desember nanti dapat menghasilkan sebuah deklarasi (keputusan) yang benar-benar mampu menyelamatkan dunia dari kehancuran. Harapan ini tidaklah berlebihan, karena fakta serta data yang disodorkan beberapa peneliti internasional sungguh membuat kita prihatin. Mencairnya gunung es di Antartika dan Artik merupakan salah satu indikator utama betapa pemanasan global yang disebabkan ulah manusia telah membawanya ke tepi jurang kehancuran. Ini jangan dibiarkan, Dari Bali kita dapat memulai pencegahan terjadinya kehancuran ini. Karena itu, momentum yang sangat berharga tersebut perlu dimanfaatkan secara cerdas oleh masyarakat Bali agar dapat memberikan peran yang besar dalam perhelatan akbar tersebut.