PARADIGMA HOLISTIK DAN KONSISTENSI KONTROL SOSIAL UNTUK MENJAGA ALAM BALI
Minggu, 11 Nop - oleh : Made Wiryana | 1 komentar | 1766 hits
PARADIGMA HOLISTIK DAN KONSISTENSI KONTROL SOSIAL UNTUK MENJAGA ALAM BALI
(Suatu kritikan terhadap investasi negatif yang berlomba masuk Bali)
Setelah revolusi Copernicus yang menumbangkan paradigma Aristotelean di abad pertengahan, mulailah masa perkembangan ilmu pengetahuan yang puncaknya suksesnya teori yang dikembangkan Newton yang menunjukkan bahwa suatu gerakan merupakan konsekuensi matematis dari sifat umum gaya gravitasi dan hukum-hukum geraknya. Sukses Newton ini memicu perkembangan teori-teori lain yang menggabungkan metode hipotetiko-deduktif yang rasional spekulatif, yang dikembangkan oleh Descartes dengan metode eksperimental-induktif yang empiris objektif yang dikembangkan oleh Bacon. Metode hipotetiko-eksperimental ini kemudian banyak diadopsi oleh cabang-cabang ilmu yang lain. Tapi tak disadari adopsi metodologis ini masuk pula asumsi filosofis yang ada di balik teori mekanika Newton yaitu materialisme reduksionistik. Konsekuensi dari adopsi ini melahirkan paradigma Cartesian-Newtonian yang membuat kehidupan, kesadaran direduksi menjadi gerak-gerak mekanistik. Anehnya paradigma inilah yang sangat mendominasi kehidupan sampai sekarang, sehingga semua segi kehidupan direduksi menjadi gerak-gerak mekanistik sehingga orang banyak berbicara tentang mekanisme terhadap segala sesuatu sampai ke kesadaran. Paradigma ini melahirkan eksploitasi terhadap manusia dan alam secara berlebihan yang berdampak pada munculnya penyakit global seperti : kerusakan alam, penyakit sosial, gila, narkoba, dan penyakit lain yang muncul akibat kekeliruan memahami kehidupan, kesadaran dan alam.
Investor dimanapun, selalu memakai mekanisme ekonomi yang tentu menganut asumsi materialisme reduksionistik dalam usahanya. Investor yang tidak dikontrol sebagian besar akan memakai asumsi filosofisnya untuk mengeksploitasi alam dan manusia, sehingga tidak jarang menimbulkan gesekan-gesekan negatif terhadap alam sekitar, manusia dan budayanya. Asumsi filosofis ini menyebabkan investor selalu mencari tempat investasinya yang sesuai dengan mekanisme ekonomisnya dan apabila beban sosial yang ditanggung terlalu tinggi ada tiga pilihan yang dilakukan yaitu : (1) menambal pejabat dan masyarakat sekitar dengan sumbatan materi, (2) tak peduli (3) hengkang kaki. Hal seperti itupun terjadi di Bali, dengan paradigma dan asumsi filosofis yang dianut, sulit untuk mengarahkan investor merubah mekanisme ekonomisnya, apalagi terhadap investor kecil dan menengah yang belum tentu memiliki perencanaan sosial ekonomis terhadap masyarakat Bali dan alam sekitarnya, dan akan semakin sulit apabila investasi tersebut dibekingi pejabat atau sebagian sahamnya dimiliki pejabat penentu keputusan.
Untuk memaksa investor menjalankan usahanya sesuai dengan alam dan budaya masyarakat Bali, maka ada dua hal yang mesti dilakukan. Pertama merubah paradigma pemegang keputusan di Bali yang selama ini materialisme reduksionistik yang lebih mementingkan pendapatan daerah, pertumbuhan ekonomi dengan mengecilkan aspek budaya masyarakat, agama, dan kelestarian lingkungan Bali, menjadi penganut paradigma holistik yang mengedepankan kesadaran holistik-ekologis yaitu memandang alam dan manusia Bali secara keseluruhan, dinamis, nonmekanistik, nonlinier dan memandang alam raya mengandung nilai-nilai intrinsik yang terintegrasi. Dengan paradigma ini pejabat/penentu keputusan dapat mengendalikan investasi mulai dari proposal, persyaratan dan perijinan, proses pengerjaaan, proses operasi yang disertai komitmen-komitmen yang mesti dilaksanakan, sehingga aspek-aspek budaya, agama, lingkungan dan ekonomi masyarakat Bali justru semakin kuat, bukan menghilangkan salah satunya. Dengan demikian investasi negatif sudah sedari awal dapat dieleminir.
Yang kedua adalah kontrol sosial yang konsisten dari masyarakat, yang selama ini terkadang “hangat-hangat tahi ayam”. Kontrol sosial selama ini sebagian besar hanya dilakukan oleh masyarakat di sekitar investor yang merasa dirugikan secara ekonomis, sedangkan masyarakat yang lain tidak mau tahu. Mahasiswa yang diharapkan dapat menjadi kontrol sosial, selama ini sebagian besar hanya tertarik pada urusan politik, begitu juga LSM-LSM banyak yang berorientasi pada masalah-masalah yang dianggap dapat memudahkan sponsor pendanaan, sedangkan masalah yang menyulitkan pendanaan dinomor duakan. Konsistensi kontrol sosial sangat diiperlukan untuk mengontrol keputusan pejabat, investor sehingga semua investasi akan dapat berimplikasi positif terhadap ekonomi masyarakat, budaya, agama dan alam Bali.
1. Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen Senin, 28 Juli 08 - oleh : Qinimain Zain
Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia
Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
(Satu Sebab Krisis Indonesia)
Oleh Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).
INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?
Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):
Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).
Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja - sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta - sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).
Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.
PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru - Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blog spot.com).