Situs LSM  LP3B Buleleng
| home | buku tamu | kirim artikel | download | forum | recommend | kontak |

Rubrik

Serba Serbi (umum)
Olahraga
Sain dan Teknologi
Seni & Budaya
Pendidikan
Lingkungan
Sosial, Politik & Ekonomi
Parlementaria
Energi
Pertanian Organik
ARSIP LAWAS LP3B
Global Warming & Climate Change

Top 10 Download

Buku Tamu dgn Turing number (958)
Pesan Singkat dgn Turing number (835)
PIXresizer (764)
Modul Komentar Terakhir (757)

Powered by








 

Pemanasan Global dan Penghematan Energi

Kamis, 08 Nopember 200 - oleh : admin | 0 komentar |   858 hits

BALIPOST, 8 NOPEMBER 2007

Oleh Ketut S Astawa

Hadirnya negara-negara yang tergolong Developing Countries manjadi perlu setelah konsep-konsep pada Kyoto Protocol lebih banyak menyoroti keterlibatan negara-negara maju dalam hal eksplorasi lingkungan. Dalam meeting ini juga diharapkan akan lahirnya batasan-batasan yang tegas dalam perlindungan dan eksplorasi alam serta pengembangan konsep renewable energy yang lebih luas dan kontinu.
------------------------------

GLOBAL warming dan high level carbon emission bukanlah sekadar isu, namun sudah benar-benar terjadi. Dalam 10 tahun ke depan, bila trend penggunaan fosil energy dan peningkatan emisi carbon ke atmosfir tetap tidak berubah maka kurang lebih 8-10% luas daratan akan berkurang setiap tahunnya, dan dalam 10 tahun berikutnya malapetaka sudah di depan mata.
---------------------
Peringatan ini paling tidak sudah disampaikan oleh beberapa researcher lingkungan di dunia. Seperti dari Queen's University Ontario Canada, yang telah mengamati perubahan es abadi di Arctic (kutub Utara), selama lebih dari 15 tahun terakhir. Tercatat tahun 2007 ini kerusakan paling dahsyat terjadi, yakni suhu di Kutub Utara telah mencapai 22 C dalam bulan Juni-Juli tahun ini, yang mana sebelumnya tidak pernah menyentuh 2 sampai 4 derajat di atas 0 derajat Celcius. Karenanya ini adalah rekor yang sungguh mengerikan. The US Snow and Ice Data Center di Colorado bahkan mencatat pencairan es telah mencapai 4.28 million square kilometer, Ini adalah pencairan es paling ekstrem terutama dalam 3 tahun terakhir, serta kedalaman es di kutub utara ini pun sudah sangat tipis (es sudah mengapung di permukaan).
Catatan-catatan dan data penting seperti ini akan dibawa oleh ahli-ahli dunia pada United Nation Climate Change Conference, 3-14 Desember 2007 nanti. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana padatnya agenda pada pertemuan dunia ini. Tidak kurang 180 negara serta bersama-sama organisasi intergovernmental dan nongovernmental dari seluruh dunia akan terlibat dalam perhelatan ini. Karenanya gema konferensi ini sudah sangat kencang di seluruh dunia. Nusa Dua sebagai tempat dilangsungkannya konferensi ini akan menjadi sangat penting artinya, bila dari sini dilahirkan gagasan-gagasan brilian untuk paling tidak menghambat pemanasan global yang artinya mampu mencegah kehancuran milyaran habitat dan biota di dunia.
Hadirnya negara-negara yang tergolong Developing Countries manjadi perlu setelah konsep-konsep pada Kyoto Protocol lebih banyak menyoroti keterlibatan negara-negara maju dalam hal eksplorasi lingkungan. Dalam meeting ini juga diharapkan akan lahirnya batasan-batasan yang tegas dalam perlindungan dan eksplorasi alam serta pengembangan konsep renewable energy yang lebih luas dan kontinu.

''Rumah Hijau''

Sebagai negara dengan bentangan garis pantai terpanjang di dunia, juga sebagai negara yang seluruh wilayahnya di kawasan ekuator, Indonesia bisa memandangnya sebagai hal yang menguntungkan atau bahkan menjadi titik kerugian yang sangat besar. Hal ini disebabkan tingginya irradiance matahari di kawasan ini, yakni rata-rata 200- 250 W/m2 selama setahun, atau 850-1100 W/m2 selama masa penyinaran menjadikan suhu permukaan akan naik lebih tinggi dari daerah lain di dunia. Irradiance yang besar ini bisa dimanfaatkan secara luas menjadi potensi solar energy yang luar biasa atau juga akan menjadi kendala yang sangat besar, sebab dengan tingginya suhu permukaan di kawasan Indonesia, akan dibutuhkan energi yang besar pula untuk menyejukkan setiap areal kerja, baik ruang kantor, sekolah-sekolah, rumah sakit, juga gedung-gedung sampai perumahan. Dr. Ir. Eddy Prianto, CES, penerima Award Persatuan Insinyur Indonesia (PII) 2007 untuk Konsep Rumah Hemat Energy, mencatat hampir 40% energi yang diperlukan sebuah gedung untuk AC, dan 35-38% untuk kebutuhan yang sama pada perumahan. Penggunaan kipas (fan) membutuhkan 18-20% dari total energi untuk gedung-gedung dan perkantoran, serta tidak kurang 20-25% untuk perumahan. Sangat jelas terlihat bahwa iklim tropis yang panas menjadikan energi lebih dominan dibutuhkan untuk kenyamanan beraktivitas pada suatu ruangan. Bila setiap rumah di dunia rata-rata menyumbang tidak kurang 20% carbon emission ke atmosfir maka angka-angka tersebut yang menggambarkan kerusakan alam di dunia, secara tidak langsung adalah kontribusi setiap umat di dunia, termasuk kita di Indonesia.
Dengan mengembangkan konsep ''rumah hijau'' kita bisa menekan pemborosan energi di sektor ini dan juga yang lebih penting maknanya, kita bisa menghambat pemanasan dunia (global warming). Konsep rumah hijau mampu menekan penggunaan listrik secara signifikan dengan kenyamanan yang jauh lebih baik. Penataan kawasan pun manjadi rapi, indah dan asri. Juga dikatakan bahwa bangunan gedung atau perumahan yang tidak hemat energi adalah 80% kesalahan desain arsitekturnya.
Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam konsep rumah hijau ini pada setiap gedung, perkantoran ataupun perumahan, seperti skala ruangan, jumlah ruang yang terkadang berlebihan, semakin banyak pepohonan dan aliran udara jendela yang benar akan memberikan kenyamanan akan aliran udara yang baik sehingga kebutuhan energi untuk AC dan kipas bisa ditekan. Penerangan dari lampu listrik bisa ditekan bila desain gedung atau perumahan memakai konsep ''penyinaran hijau'' yakni cahaya matahari mampu memberi penerangan yang sangat baik pada siang hari sehingga pemakaian listrik untuk kebutuhan ini tidak diperlukan lagi (pemakaian lampu penerangan pada siang hari).
Ada hal yang paling sulit dan berat untuk diterapkan, namun kita harus melakukannya, yakni kebiasaan hidup hemat. Hal ini kita bisa mulai dari diri sendiri mulai dari hal yang kecil seperti mematikan lampu sehabis memakai misalnya, juga mengurangi pekerjaan pada malam hari bila bisa dilakukan pada siang hari seperti membaca, menulis dan lain-lain. Para pimpinan di kantor, guru-guru sekolah, pemimpin umat sampai tokoh-tokoh masyarakat hendaknya memberi contoh bagaimana hidup hemat energi. Untuk praktisi dunia desain dan arsitektur hendaknya memiliki posisi tawar yang kuat di depan klien untuk mampu menciptakan rumah atau gedung tropis hemat energi dan tidak semata-mata mengikuti kehendak klien atas nama kelanjutan projek.

Penulis, staf FT Unud, saat ini sedang mengambil Doktoral CREST (Center Renewable Energy System and Technology)
Loughborough University, UK
-----------------------
* Bila setiap rumah di dunia rata-rata menyumbang tidak kurang 20% carbon emission ke atmosfir maka angka-angka tersebut adalah kontribusi setiap umat di dunia, termasuk kita di Indonesia.
* Dengan mengembangkan konsep ''rumah hijau'' kita bisa menekan pemborosan energi dan juga yang lebih penting maknanya, bisa menghambat pemanasan dunia (global warming).
* Hal paling sulit dan berat untuk diterapkan, namun kita harus melakukannya, yakni kebiasaan hidup hemat, dimulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil.

kirim ke teman | versi cetak

Berita Global Warming & Climate Change Lainnya

Relevansi Nyepi dan Pemanasan Global
Belajar Bijak kepada Bumi
Perubahan Iklim Bukan Tanggung Jawab Parsial
Pertemuan Nusa Dua,Apa Manfaatnya bagi Bali?
Pemanasan global.
KTT ''Climate Change'' di Bali--Mesti Beri Kontribusi Penyelamatan Alam
Deklarasi perubahan iklim
Tidak ada komentar tentang artikel ini
Kirimkan Komentar Anda:
Nama Anda* :
Email Anda* :
Judul Komentar* :
Isi Komentar* :
Security Code : Security Code
Type Code* :


 

Pencarian


cari di

Kalender

Statistik Situs

[ Sejak Maret 2006 ]
 
Visitors  139601 Users
Hits 253639 hits
month 424 Users
Today 24 Users
Online 5 User(s)

Top 10 Artikel

[2739]PROBLEM SOSIAL & FUNGSI TRI PUSAT PENDIDIKAN
[1761]PARADIGMA HOLISTIK DAN KONSISTENSI KONTROL SOSIAL UNTUK MENJAGA ALAM BALI
[1253]Relevansi Nyepi dan Pemanasan Global
[1138]Indonesia dan Problem ''Renewable Energy''
[1103]Pesona Pantai LOVINA, Desa Pemaron-Buleleng.
[1083]KTT ''Climate Change'' di Bali--Mesti Beri Kontribusi Penyelamatan Alam
[1062]Kondisi Biofisik Sumber Mata Air Di Kabupaten Buleleng
[964]Rumah Jerami Hemat Energi, Pemenang Word Habitat Award 2005
[950]Masalah Sampah, Bom Waktu
[858]Pemanasan Global dan Penghematan Energi

*10 Link Terbaru

Buleleng
[14-Sep-2007 - 341 hits]
Managing Basic Education
[12-Sep-2007 - 296 hits]
Manajemen Berbasis Sekolah
[12-Sep-2007 - 299 hits]
WALHI BALI
[12-Sep-2007 - 321 hits]
Berita Bali
[11-Sep-2007 - 441 hits]
Arek Smada 76, Surabaya
[11-Sep-2007 - 239 hits]
Bali In Danger
[11-Sep-2007 - 283 hits]
Alumni SMPN 1 Singaraja,Bali
[11-Sep-2007 - 253 hits]
Dusun Butiyang
[11-Sep-2007 - 253 hits]
Kisah-Kisah Sebuah Angkatan
[02-Aug-2007 - 267 hits]
Tampilkan situs Anda di sini...
» Tambah link baru
» Browse link

 
Boy SR & Gde Wisnaya W © 2007, Allright Reserved - Powered by AuraCMS v2.1
Artikel adalah properti kontributor, isi dapat dicopy-paste dengan menyebutkan sumbernya.

IP Anda : 38.107.191.118 | Hostname: 38.107.191.118