Situs LSM  LP3B Buleleng
| home | buku tamu | kirim artikel | download | forum | recommend | kontak |

Rubrik

Serba Serbi (umum)
Olahraga
Sain dan Teknologi
Seni & Budaya
Pendidikan
Lingkungan
Sosial, Politik & Ekonomi
Parlementaria
Energi
Pertanian Organik
ARSIP LAWAS LP3B
Global Warming & Climate Change

Top 10 Download

Buku Tamu dgn Turing number (958)
Pesan Singkat dgn Turing number (835)
PIXresizer (764)
Modul Komentar Terakhir (757)

Powered by








 

Indonesia dan Problem ''Renewable Energy''

Selasa, 11 September 200 - oleh : admin | 2 komentar |   1139 hits

Oleh Ketut S Astawa

KEBUTUHAN akan energi saat ini menjadi perhatian serius masyarakat dan pemerintah Indonesia, sebab dengan biaya produksi tinggi menjadikan biaya tinggi pula yang harus dibebankan kepada pemakai (pelanggan). Masalah ini sebenarnya terjadi di seluruh dunia, khususnya di negara-negara Eropa dan Amerika yang memakai energi lebih banyak dari belahan dunia yang lain. Namun di samping itu ada beberapa masalah lebih serius yang dihadapi masyarakat dunia dewasa ini, yakni pemanasan iklim gobal yang sangat ekstrem dan level emisi karbon yang sudah sangat tinggi dari penggunaan fosil energi selama ini.

---------------------------------

Eropa telah mencanangkan penggunaan renewable energy sekitar 25% dari seluruh kebutuhan energinya pada tahun 2025, begitu pula Amerika dan Kanada yang tengah gencar mengkampanyekan penggunaan renewable energy untuk masyarakatnya. Kebijakan ini telah menjadikan negara-negara ini memproduksi power-plan 2 berbasis renewable energy berskala besar. Perusahaan-perusahaan otomotif sedang berlomba-lomba mencipkan mesin berbasis fuel cell (seperti Roll-Royce, BMW, VW, dan Toyota). Inggris misalnya terus berlomba membangun windfarm di pesisir barat pantai Cornwall, Wales sampai di Scotland, di samping juga tengah membangun tower lepas pantai untuk energi gelombang laut. Sedangkan Jerman dan Amerika menjalankan program 1 juta roof (install solar cell).

Jepang sebagai negara terdepan di dunia dalam hal memproduksi dan memakai solar cell bahkan telah mengambil pajak keuntungan mulai 2003 lalu dari setiap penggunaan solar cell oleh masyarakatnya, setelah bertahun-tahun sejak tahun 80-an mensubsidi besar-besaran untuk penggunaan solar cell, baik untuk riset maupun menyebaran informasi pada masyarakatnya.

Di kawasan asia (selain Jepang yang telah memiliki puluhan solar cell manufacture besar) pertumbuhan solar cell manufacture seperti jamur di musim hujan, di China tidak kurang belasan solar cell manufacture yang tengah pemproduksi rata-rata 20-50 MW solar cell per tahunnya, India memiliki tidak kurang 8 solar cell manufature yang telah berproduksi mulai akhir tahun 90-an. Di Asia Tenggara Indonesia termasuk yang paling terbelakang, sebab tercatat Thailand telah mengembangkan solar cell dan memiliki 3 manufature dengan kapasitas produksi 15-20 MW per tahun, juga negara ini saat ini mengembangkan solar cell langsung untuk suplai air condition (AC) untuk gedung-gedung pemerintahannya. Filipina mendapat kesempatan mengembangkan solar cell, di mana UNI Solar USA, telah memindahkan salah satu cabang manufacture-nya dari Amerika dan mulai pertengahan tahun ini telah diharapkan mampu memproduksi 25-30 MW solar cell per tahun. Malaysia tidak mau ketinggalan satu manufacture solar cell-nya telah memproduksi 15 MW per tahun dan satu manufacture lainnya tengah dikerjakan untuk produksi sekitar 30 MW per tahun.

Indonesia sangat jauh dalam hal ini, dengan kebijakan pemanfaatan renewable yang hanya 4% dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tampaklah jelas kita seakan belum melihat potensi renewable yang melimpah keberadaannya di negara kita.



Potensi dan Posisi Indonesia

Di mana posisi kita? Hal ini telah dikhawatirkan Prof. Welson Wenas, staf pengajar Physic Department ITB, bahwa Indonesia akan kembali kehilangan kesempatan untuk mengembangkan teknologi, setelah di tahun 80-an di mana putra-putra bangsa telah mampu menguasai mobile technology (cellular mobile phone technology), namun karena kebijakan pemerintah yang kurang berpihak di bidang ini maka kita akhirnya hanya menjadi target market mobile phone, sehingga sampai sekarang kita hanya bisa konsumtif di bidang ini. Kini, teknologi solar cell kembali akan perpeluang menjadi kegagalan bangsa Indonesia setelah seluruh negara tetangga kita mengembangkannya. Akan sangat menyedihkan bila ahli-ahli dan putra-putra bangsa terbaik yang telah mendapat penghargaan internasional seperti Prof. Welson Wenas mendapat paten atas penemuan performance amorphous-sillicon (kerja sama dengan Kaneka Jepang, sebagai salah satu manufacture solar cell terbesar di dunia), serta banyak ahli putra-putra bangsa yang andal di bidang ini.

Sebetulnya kita bisa memulainya dengan penyebaran luasan informasi yang benar akan potensi ini. Seperti yang telah dilakukan di Jepang di awal tahun 80-an. Di mana masyarakatnya akhirnya sadar dan mengerti bagaimana manfaat solar cell ini, sehingga kini masyarakat Jepang menggunakan solar cell untuk perumahan sebagai suatu hal yang wajib. Gedung-gedung pemerintahan, sekolah-sekolah serta pusat-pusat pelayanan masyarakat menggunakan solar cell sebagai sumber pembangkit listrik yang andal, sangat umum kita saksikan gedung-gedung dengan teknologi BIPV (building intergrated photovoltaic) meng-install solar panel sebagai pengganti kaca untuk jendela-jendela dan kaca-kaca pintunya.

Bila di kutub utara dan selatan diciptakan embusan angin di atas 3.5m/dt yang memungkinkan negara-negara di belahan ini mengoptimalkannya sebagai pembangkit listrik, maka untuk daerah-daerah di kawasan dekat dengan ekuator (sedikit embusan anginnya/di bawah 3 m/dt) namun irradiance mataharilah yang melimpah. Indonesia berada di kawasan ini di mana irradiance sebesar rata-rata 200-250 W/m2 selama setahun, atau rata-rata 800-1100 W/m2 dalam masa penyinaran, dengan jam penyinaran yang tinggi hampir 14 jam dalam sehari. Juga bentangan wilayah yang panjang di kawasan ekuator menjadikan potensi ini sangat luar bisa.



Potensi ''Solar Cell'' di Bali



Sebagai daerah tujuan pariwisata Bali sangat berpotensi mengembangkan teknologi ini. Seperti yang telah dikembangkan oleh Sydney, di tahun 2000 bertepanan saat negara ini menjadi tuan rumah olimpiade, Sydney mengklaim sebagai kota yang bersih lingkungan dan clean energy pula. Tampak jelas di setiap sudut kotanya menggunakan solar cell untuk pembangkit listrik. Dari traffic light, penerangan jalan, logo, penunjuk jalan sampai solar panel yang di-install secara luas di dinding juga jendela gedung-gedung serta hampir seluruh pertokoannya. Sehingga image clean city, dengan clean energy semakin kuat di tengah isu dan kampanye zero carbon emission di negara-negara Barat yang sangat kencang dewasa ini. Kondisi ini bisa kita tiru untuk menguatkan isu Bali bersih sehingga Best island in the world (versi Travel Leisure Magazine) yang tahun ini kembali didapat makin kuat image-nya di dunia.

Di sisi lain sebetulnya kita bisa bekerja sama dengan PLN, di mana selama ini kita senantiasa menudingnya dan menyalahkannya bila terjadi pemadaman atau kegagalan energi listrik. Padahal bila dilihat secara fair, PLN selama ini bekerja sendirian untuk pembangkitan, distribusi juga maintenance energi listrik di Tanah Air. Alangkah bijaksananya bila kita bersama bisa mengurangi beban PLN dengan membangkitkan listrik sendiri dengan stand alone (solar cell untuk perumahan). Juga bila kita mampu meng-install untuk gedung-gedung pemerintahan, serta public service menggunakan solar cell, katakanlah mengurangi separuh kebutuhan listriknya. Maka PLN akan memberikan lebih banyak power-nya kepada pabrik-pabrik produksi yang menjadi salah satu kendala di dunia investasi selama ini.



Penulis, staf FT Unud, kini sedang menempuh studi Doktoral

CREST (Center Renewable Energy System and Technology)

Loughborough University UK

kirim ke teman | versi cetak

Berita Energi Lainnya

Tolak, Kandidat Pemimpin yang tak Peduli Alam Bali
Rumah Jerami Hemat Energi, Pemenang Word Habitat Award 2005
Desa Pakraman Panca Mekar Sari--------------Secercah Harapan di Balik ''Renewable Energi Park''

Komentar Pengunjung

1. Solar Cell Vs Efisiensi
Sabtu, 22 September 07 - oleh : Wiryana
Saya, setuju dengan isi artikel anda, bahwa di negara seperti kita lebih cocok mengembangkan energi alternatif dengan solar cell.
Yang menjadi hambatan adalah untuk saat ini adalah, belum maksimalnya efisiensi dari sistem pembangkit energi dengan solar cell, yaitu luas penampang solar cell dengan energi yang dihasilkan, selain harga solar cellnya sendiri yang sangat mahal.
Sebagai perbandingan ketika ikut berkecimpung dengan teman2 saat mendesign mobil energi surya widya wahana I, dengan ukuran cell 1 x 2 meter, mobil tidak dapat menjangkau dalam jarak yang panjang (barangkali design yang belum aerodinamis), dan harus dibantu dengan changer accu agar dapat terus beroperasi sepanjang 600 km.
Barangkali perlu dikaji sistem hybrid yang menggabungkan solar cell, tenaga angin dan microhydro yang memungkinkan untuk lebih meng-efisienkan sistem.

Trims
Wiryana

2. Penawaran Solar Cell
Rabu, 30 April 08 - oleh : TLCOM & Solartechnik Germa
Kami menawarkan pemasangan Photovoltaik (PTLS) dan Solarthermie (penggunaan Air panas). Produksi di German saat ini untuk 1meter kwadrat persegi
untuk Photovoltaik 100 - 140 kWh/a dan Solarthermie 300 - 600 kWh/a.

Perhatian!
Harga saat ini hanya €6.500 untuk setiap 1kWp dan
Harga ini berlaku untuk di wilayah German.
Jika ada peminat dari Indonesia, dapat menghubungi kami per e-mail. tlcom@gmx.de, atau tel. 0049-174-7281251

Dipl.-Ing. Thomas Lengkey
Vertrieb- und Technischer Leiter

Kirimkan Komentar Anda:
Nama Anda* :
Email Anda* :
Judul Komentar* :
Isi Komentar* :
Security Code : Security Code
Type Code* :


 

Pencarian


cari di

Kalender

Statistik Situs

[ Sejak Maret 2006 ]
 
Visitors  139607 Users
Hits 253645 hits
month 424 Users
Today 24 Users
Online 4 User(s)

Top 10 Artikel

[2739]PROBLEM SOSIAL & FUNGSI TRI PUSAT PENDIDIKAN
[1761]PARADIGMA HOLISTIK DAN KONSISTENSI KONTROL SOSIAL UNTUK MENJAGA ALAM BALI
[1253]Relevansi Nyepi dan Pemanasan Global
[1139]Indonesia dan Problem ''Renewable Energy''
[1103]Pesona Pantai LOVINA, Desa Pemaron-Buleleng.
[1084]KTT ''Climate Change'' di Bali--Mesti Beri Kontribusi Penyelamatan Alam
[1062]Kondisi Biofisik Sumber Mata Air Di Kabupaten Buleleng
[964]Rumah Jerami Hemat Energi, Pemenang Word Habitat Award 2005
[950]Masalah Sampah, Bom Waktu
[858]Pemanasan Global dan Penghematan Energi

*10 Link Terbaru

Buleleng
[14-Sep-2007 - 341 hits]
Managing Basic Education
[12-Sep-2007 - 297 hits]
Manajemen Berbasis Sekolah
[12-Sep-2007 - 299 hits]
WALHI BALI
[12-Sep-2007 - 322 hits]
Berita Bali
[11-Sep-2007 - 441 hits]
Arek Smada 76, Surabaya
[11-Sep-2007 - 239 hits]
Bali In Danger
[11-Sep-2007 - 283 hits]
Alumni SMPN 1 Singaraja,Bali
[11-Sep-2007 - 253 hits]
Dusun Butiyang
[11-Sep-2007 - 253 hits]
Kisah-Kisah Sebuah Angkatan
[02-Aug-2007 - 267 hits]
Tampilkan situs Anda di sini...
» Tambah link baru
» Browse link

 
Boy SR & Gde Wisnaya W © 2007, Allright Reserved - Powered by AuraCMS v2.1
Artikel adalah properti kontributor, isi dapat dicopy-paste dengan menyebutkan sumbernya.

IP Anda : 38.107.191.119 | Hostname: 38.107.191.119